| Data Diri | Biografi | Diskografi | Info Acara | Berita |  

    | 

IWAN FALS TAKBIRAN DI TRANS, SELASA, 30 SEPT 08

[INFO ACARA] Iwan Fals akan tampil dalam musik spesial Malam Takbiran di Trans 7, Selasa malam, 30 September 2008. Iwan Fals antara lain akan tampil berkolaborasi dengan Afgan. Jangan lewatkan! Lagu yang dibawakan antara lain lagu-lagu lawasnya yang populer seperti ‘Pesawat Tempur’, ‘Bento’ dan ‘Libur Kecil Kaum Kusam’. Beberapa penyanyi lain akan hadir antara lain Pongky, dll. [red] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Memilih Ikon Bagi Pabrikan: Kasus Iwan Fals sebagai DUta TVS

[BERITA] Saya berniat menulis postingan ini karena terinspirasi oleh iklan TVS yang baru, yang tidak lain dan tidak bukan memuat Bang Iwan Fals sebagai duta TVS di Indonesia. Saya pikir wah bagus juga nih strateginya, dengan menggandeng seorang yang sudah kita kenal di negeri ini. Tapi saya pikir-pikir lagi, apa toh sebenarnya yang harus dipertimbangkan dalam menunjuk sosok sebagai ikon pabrikan.

Kita lihat dulu dari Yamaha, iklan-iklannya banyak menonjolkan sisi humor, canda, slenge’an, dan hiperbolis yang dikemas dalam pesan yang cukup kontroversial. Siapa yang bisa menonjolkan keunikan ini? Selain Thessa Kaunang yang merupakan ikon MIo, ada Komeng yang merupakan titik pusat segala kehebohan dalam iklan Yamaha.

Nah kini bisa kita lihat, imej yang mau dibuat apa sih? Yamaha terkenal dengan iklannya yang urakan dan kesan kencang dalam setiap produknya. Tidak akan cocok bila katakanlah Ebiet G. Ade yang menjadi ikon Yamaha, belum pernah lihat mas Ebiet naik motor sampai bajuny sobek-sobek kan?

Nah soal kekhususan dan keunikan produk juga mesti diperhatikan. Apa sih yang istimewa dari Mio? Ternyata memang motor ini dikhususkan bagi kaum hawa. Keputusan Yamaha dalam menggandenga Thessa Kaunang adalah tepat, setidaknya ada aura feminin dalam sosoknya, agak bertabrakan dengan imej bila Yamaha menggandeng katakanlah Melly Goeslaw yang imejnya agak-agak nyentrik gimana gitu.

Beralih ke Suzuki yang belum lama ini menobatkan grup musik UNGU sebagai ikon mereka. Jujur pertama kali saya mendengar berita ini saya agak bingung, maksudnya apa? Ungu sendiri bisa dikata belum bisa dibilang sebagai grup yang legendaris, selegendaris katakanlah GIGI atau DEWA, setidaknya dilihat dari jam terbangnya. Jadi apa yang membuat mereka dipilih oleh Suzuki, tentunya Suzuki tidak asal pilih cap-cip-cup toh?

Setelah saya renungkan kembali ternyata yang menjadi nilai plus dari Ungu adalah faktor kekiniannya. Mereka bisa dibilang sedang naik daun sekarang, dikontrak dalam banyak iklan, dipuja-puja penggemarnya, meskipun fan basenya belum sekuat hmm, SLANK. Tapi dengan faktor kekinianya, mereka layak dijadikan ikon. Apakah setelah mereka tenggelam oleh band-band baru nanti mereka akan tetap dikontrak? Rugi donk, keputusan yang pahit adalah dengan tidak lagi mengontrak mereka. Gampang memang, namun dalam prakteknya gonta-ganti ikon tidak baik bagi “kesehatan” imej. Imej yang sudah dibangun berantakan gara-gara sang pembawa bendera tidak lagi dikenal. Maka faktor kekinian juga perlu dilihat dalam jangka panjang.

Lalu soal bang Iwan yang baru saja menjadi duta TVS. Tidak sulit mencari alasannya, bang Iwan memiliki fans base yang kuat lewat Oi (Orang Indonesia). Juga sudah dikenal selama kurun waktu yang lama. Faktor legendaris menjadi pertimbangan kali ini. Cukup bagus juga strategi TVS kali ini.

Tambahan adalah TVS menganggap Iwan Fals memiliki visi yang sama dengan mereka. Menampung suara rakyat dan mengolahnya menjadi produk, lagu untuk bang Iwan dan motor bagi TVS. Faktor kesamaan visi bisa dilihat disini, meskipun sebenarnya sulit juga menemukan sosok-sosok terkenal yang memiliki visi yang sama dengan para produsen.

Nah itu saja yang bisa saya bagikan kali ini. Bagi para pabrikan yang belum punya ikon atau duta bagi pabrikan mereka. Siap-siap saja karena saya lihat strategi semacam ini penting juga, jangan terlalu terikat dalam zona aman lah… [source: http://fanderlart.wordpress.com] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Film KANTATA: euforia itu muncul kembali

[ARTIKEL] Mengenal sosok Virgiawan Listanto atau lebih dikenal dengan iwan fals ketika masih dibangku SMP. Bukan Bento, ataupun Bongkar justru album Dalbo dan Anak Wayang yang membuat aku mulai mencari tahu tentang iwan fals. ”Dalbo itu anak genderuwo” demikian ujar temanku berkelakar. Dari dia aku banyak tahu tentang bang iwan, awal awal aku lebih suka membeli album the best dari pada albumnya. Ada alasan sebagai berikut, kalau the best lagunya bisa sampai 18 kalau yang album paling 10. lama kelamaan hampir semua the best dah aku punya. Mulailah aku ngumpulin lagu lagu yang belum pernah aku dengar dan itu biasanya ada di album. Album yang paling bekesan adalah Hijau sampai 2 kali aku beli karena sempat hilang, walaupun harus ”ngubek-ubek” seluruh solo untuk mendapatkannya. Selama pengumpulan kaset ada satu kaset bajakan, aku membeli album Cikal bukan original. Alesannya aku gak nemuin itu di toko kaset. Dan anehnya walaupun bajakan tapi covernya ada teks lagunya.... aneh.

Oi......

Menunjuk iwan tak lepas dari Oi nya. Oi yang diplesetkan menjadi akronim dari Orang Indonesia. Padahal kalau rekan rekan ikut Munas Pertama Oi tanggal 16 Agustus Tahun1999 bang iwan menyebut Oi itu seruan, bisa seruan untuk berperang, bekerja dan lain – lain. Demikian kalau tidak salah kata kata beliau. Kebetulan pada munas Oi pertama aku termasuk 1 dari 6 kelompok Oi kota solo yang ikut hadir. Selain aku yang mewakili adalah, Hio Ariyanto, Baron dan Cepi dari Oi Bento house, serta Arief dan Budi dari Oi Pasoong. Jujur aku menyesal kenapa waktu tahun 1999 aku belum se”cerdas” sekarang. Mungkin disitu aku yang paling muda 17 tahun kala itu. Tidak pernah terpikir di benak ku membangun sebuah hubungan dengan teman se Indonesia. Kala itu hanya berpikir bertemu iwan, salaman, photo, minta tanda tangan. Ada kejadian unik mengenai photo. Kalau rekan tahu dulu sebelum dan sesudah munas Iwan punya Nazar tidak mau berphoto di dalam area rumah. Photo boleh dilaksanakan asal diluar area rumah. Yang menarik pada saat prosesi penyerahan hadiah termasuk kepada mas Hio sebagai pemenang lomba logo Oi juara 1 dan juara 2 ada rekan rekan Oi yang sebenarnya memotret para juara tapi iseng memotret iwan yang menyerahkan piala. Seketika itu juga iwan langsung berteriak, mungkin itu ledakan emosi darinya ketika para fans nya tidak bisa diberi tahu. Setelah itu seperti ada kesan hambar, terlihat jelas suasana penyesalan dari rekan rekan Oi semua. Mungkin guratan sesal itu terbaca oleh bang iwan. Dan akhirnya bang iwan sempat menyanyi bersama sama kita.

Digo Menjadi Bintangnya

Digo mungkin yang menjadi bintang kala itu, lagu ciptaan nya dijadikan mars Oi. Selain suara yang kirip wajahnya juga mencerminkan iwan dikala tahun 90an awal. Selain itu Tabloid Musik MuMu kala itu mewawancari salah seorang fans dari daerah sumatra (jambi kalau tidak salah) yang tunanetra. Sebuah loyalitas yang luar biasa.

Hijrah Ke Jakarta....

Setelah lulus STM aku meneruskan kuliah dijakarta, jujur disini sebenarnya ada peluang besar untuk kembali aktif di Oi. Akan tetapi aku mencari cari Oi disekitaran tempat tinggalku ternyata tidak ada, ada korwil tanggerang letaknya lumayan jauh. Akhirnya kecintaanku terhadap Oi mulai pudar. Akan tetapi spirit Iwan dan kecintaan ku terhadap iwan masih ada dan tetap akan ada.

Gairah itu ada lagi.

Setelah beberapa bulan gagal untuk nonton dipanggung kita, film kantata akan segera tayang, kecintaan, euforia, fanatisme, atau apapun itu namanya. Terhadap iwan muncul kembali. Teringat konser konser megah kantata sebelumnya. Jadi salahkah aku kalau merindukan mu lagi idolaku.

Sekelumit kisah tentang kecintaan ku terhadap Iwan fals. [Oleh : Arista Budiyono] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

SAKSIKAN FILM "KANTATA TAKWA" DI BLITZ MEGAPLEX 26 SEPT - 4 OKT 2008

[BERITA] Dan betapa berbahagianya saya... Beberapa waktu lalu, sempat membaca review soal film ini dari tulisan Eric Sasono. Waktu saya membaca review itu, saya kira film ini adalah film dokumenter soal pembuatan konser Kantata Takwa. Seperti Shine A Light-nya Martin Scorsese lah. Ada dokumenter soal band, lalu lebih banyak cerita soal konser. Dan saya kira, film ini adalah film yang sama seperti yang sering diputar TPI beberapa tahun lalu. Film konser Kantata Takwa. Ternyata, ini film tentang gerakan budaya yang dilakukan beberapa seniman dengan menggelar pertunjukkan yang merupakan kombinasi antara musik dan teater. Film musikal yang inspirasinya diambil dari lagu-lagu Kantata Takwa dan Swami, begitulah deskripsi singkatnya.

Film ini dibuka dengan adegan WS Rendra alias Willy yang tertidur. Lantas narasi dibuka oleh Willy yang membacakan puisi yang kemudian dikenal publik lebih luas lewat lagu "Kesaksian." Sebuah pembuka yang langsung mencuri perhatian. Apalagi buat penggemar Iwan Fals seperti saya. Lagu ini sudah saya dengar bertahun-tahun, dan mendengarnya kembali di dalam bioskop, mendengarnya ada di dalam film adalah kebahagiaan tersendiri.

Aku mendengar suara, jerit makhluk terluka.
Luka,luka, hidupnya luka.
Orang memanah rembulan, burung sirna sarangnya.
Sirna,sirna hidup redup, alam semesta luka.

Banyak orang hilang nafkahnya.
Aku bernyanyi menjadi saksi.
Banyak orang dirampas haknya.
Aku bernyanyi menjadi saksi.
Mereka dihinakan tanpa daya.

Ya, tanpa daya.
Terbiasa hidup sangsi.

Orang-orang harus dibangunkan. Aku bernyanyi menjadi saksi.
Kenyataan harus dikabarkan. Aku bernyanyi menjadi saksi.

Lagu ini jeritan jiwa. Hidup bersama harus dijaga.
Lagu ini harapan sukma. Hidup yang layak harus dibela.


Kalimat "Orang-orang harus dibangunkan sepertinya yang jadi alasan kenapa adegan pembukanya Willy yang tertidur lelap. Saya masih menebak-nebak maksud dari simbolisasi orang tertidur ini. Mungkin simbol bahwa masyarakat kita yang tak peduli, tertidur saja sementara banyak ketakadilan terjadi di negara ini, jika kita lihat liriknya. Sosok perempuan berkerudung hadir sejak awal film. Perempuan ini tak berbicara sepanjang film. Di setiap adegan, dia hanya memandang iba.



Kantata Takwa adalah teater yang difilmkan. Semua pesannya, disampaikan sebagian besar lewat teater. Tapi, tenang saja. Bukan tipikal teater yang akan membuat kening orang awam berkerut. Setidaknya, saya sebagai orang awam teater tak berkerut melihat semua adegan film ini. Simbolisasinya digambarkan dengan cukup lugas. Lagipula, di awal film ditulis bahwa ketika film ini dibuat rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto sedang berkuasa. Makanya, saya rasa siapapun akan dengan mudah menangkap maksud yang ingin disampaikan film ini.

Militer digambarkan dengan sosok orang-orang memakai jas hujan, memakai masker, serta membawa senjata. Mereka menyiksa. Membunuh. Dan pada akhirnya, mereka dikejar massa yang kemarahannya memuncak.

Selain adegan teatrikal yang dipentaskan oleh Bengkel Teater Rendra, film ini menggabungkan dokumentasi pementasan konser Kantata Takwa, dan semacam wawancara singkat dengan para personel Kantata Takwa: Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, Yockie Suryoprayogo, dan Setiawan Djody. Masing-masing menjelaskan definisi Takwa menurut mereka. Di sini ada adegan Yockie bermain piano di atas mobil, mengelilingi kota yang mengingatkan pada adegan Vanessa Carlton di video klipnya. Hanya saja, ini dibuat beberapa belas tahun lebih awal.

Ada tiga adegan yang paling saya suka. Yang pertama, adalah adegan ketika para personel Kantata berdiskusi soal konsep pertunjukkan mereka. Willy menyarankan mereka membuat lebih banyak lagu. "Asal jangan berdakwah aja," kata Iwan Fals, sambil tertelungkup di lantai dan bertelanjang dada.

Yang kedua, adalah adegan di lagu "Hio." Sawung Jabo dan Iwan Fals berhadapan dalam ruang gelap. Sorot lampu menyinari keduanya, sehingga gambar itu akan sangat indah sekali secara fotografi. "Hidup ini hanya ada dua pilihan. Serius atau tidak serius," kata Jabo kepada Iwan. "Jadi, kamu serius tidak?" kurang lebih begitu kata Jabo. Iwan, tak langsung menjawab. Ada keraguan di benaknya. "Tapi saya hanya manusia biasa," kata Iwan. Jabo yang meledak-ledak penuh semangat, dibalas Iwan yang seakan ogah-ogahan menjawab tantangan Jabo. Mungkin penulis skenario [Erros Djarot dan Gotot Prakosa] sengaja memberi dialog ini pada Iwan karena memang mereka tahu Iwan orangnya seperti itu. Jika kita mengutip kalimat "Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata" dari puisi Willy, maka Iwan cenderung malas untuk melaksanakan kata-kata.

[Sedikit intermezzo, dua hari lalu saya mewawancarai Bimbim Slank. Kurang lebih dia berkata hal yang sama soal Iwan. Jika Slank ingin tak sekadar bicara, tapi ada aksi, Iwan lebih memilih posisi sebagai seniman yang hanya mencetuskan ide.]



Yang ketiga, adalah adegan Iwan Fals yang bertelanjang dada, menenteng gitar di sebuah tepi sungai. Di sana, dia disambut belasan anak kecil yang bertelanjang bulat dan belum disunat. "Bento! Bento! Bento!" mereka meneriakki Iwan dengan nama itu. "Jangan panggil saya Bento!" kata Iwan. Lantas, anak-anak kampung nan kumal itu mengenalkan namanya masing-masing yang ternyata namanya terdengar lebih kota daripada penampilannya. Ada yang namanya Teddy, hingga Jansen. Yang lainnya saya lupa. Dan mereka pun menyanyikan lagu "Bento," diiringi gitar kopong Iwan Fals. Adegan lalu pindah ke hutan di mana seorang lelaki botak berpakaian jas melihat-lihat tanah. Dia lantas dikejar-kejar massa dan gerombolan anak kecil. Dan lagu "Bento" pun dinyanyikan. Gambar berpindah-pindah dari adegan si bos dengan perempuan-perempuan seksi ala '90s dengan blazer yang pundaknya diberi bantalan, dan model rambut mengembang, hingga adegan di pertunjukkan Kantata Takwa.




Menjelang akhir, adegannya adalah pembunuhan semua personel Kantata. Dan di setiap adegan itu, perempuan berkerudung hanya memandang tanpa bicara nyaris tanpa emosi. Di akhir adegan, si perempuan berkerudung terlihat mengajak ratusan perempuan muda lainnya yang juga berkerudung menuju satu arah. Si perempuan berkerudung yang diperankan Clara Sinta itu, kembali memandang dari kejauhan ke arah para personel Kantata yang sedang berdiri di atas batu.


Pada saat konferensi pers, saya tanyakan soal simbol perempuan berkerudung ini kepada Erros Djarot dan Willy. Saya merasa para pembuat film tak tegas menggambarkan pandangan mereka terhadap agama. Apa yang ingin disampaikan mereka soal agama, tak segamblang atau selugas penggambaran mereka terhadap sosok penguasa yang menindas. Makanya, simbolisasinya hanya perempuan berkerudung yang bisanya cuma memandang tanpa berinteraksi. Apakah ini karena faktor banyak pita yang terendam hingga adegannya sedikit? Atau memang, itu yang dirasakan pembuat film, agama tak banyak membantu ketika penindasan itu terjadi?



Erros Djarot mengatakan bahwa di era itu banyak kyai yang terkooptasi penguasa. Dan kurang lebih seperti itulah yang ingin disampaikan. Walau begitu, dia bilang, faktor agama digambarkan dengan banyak lewat puisi-puisi yang dibacakan Kyai Willy--meminjam istilah yang digunakan Erros--di film. "Doa itu tak harus melulu literer!" kata Willy. "Kita tak perlu setiap saat mengangkat tangan dan membaca doa-doa."


Kembali ke delapan belas tahun lalu ketika pementasan Kantata Takwa digelar, Willy tak mengira gerakan budaya yang mereka susun malah berkembang menjadi besar. Djody malah mendatangkan paduan suara. Lantas malah merekam lagu-lagu yang mereka buat. "Kalau pementasannya dilarang, minimal lagunya sudah direkam," kata Djody. Djody juga membeli sinar laser untuk pertunjukkan itu. Dan bisa mendapat ijin untuk menggelarnya di stadion. "Bu Tien suka sama Djody soalnya, makanya kami dapet ijin. Djody itu wajahnya mirip Pak Harto waktu muda," kata Erros sambil terbahak.

Film Kantata Takwa ini, mengendap selama belasan tahun di rumah sutradara Gotot Prakosa. Baunya sudah sering dikeluhkan istri Gotot. "Makanya, saya telpon Erros, saya bilang, kalau film ini tak segera dibuat, saya bisa diusir dari rumah," kata Gotot sambil tertawa.



Delapan belas tahun menunggu rasanya tak apa. Seperti halnya film Rock N' Roll Circus dari The Rolling Stones yang baru dirilis pada tahun 1995 padahal dibuat pada tahun 1968, penantian akan film Kantata Takwa tak sia-sia. Melihat sosok para personel Kantata delapan belas tahun lalu, jelas menjadi nostalgia yang menyenangkan. Iwan Fals masih dalam kondisi liarnya. Bertelanjang dada, rambut panjang, berkumis dan berjenggot. Djody belum terlalu memaksakan egonya di Kantata. Dia masih sadar akan posisinya yang sama dengan yang lain, meskipun dia yang membiayai gerakan itu. Berbeda dengan ketika Kantata masuk di album Kantata Samsara, di mana Djody mulai ingin terlihat lebih menonjol dengan cara memasang fotonya dalam ukuran paling besar dan menulis kata pengantar sok bijak dan sok budayawan.

Dan yang paling membahagiakan tentunya kehadiran film musikal seperti ini. Yang digarap dengan baik. Yang punya pesan mendalam sekaligus akan menghibur. Yang tak senorak film [maunya] musikal Bukan Bintang Biasa. Tahun depan, Garin Nugroho akan merilis film [yang sepertinya sih judulnya] Generasi Biru. Film musikal yang digabung dengan dokumenter dan animasi, tentang Indonesia yang dilihat berdasarkan lagu-lagu Slank. Dengan begitu, dua musisi pujaan saya punya film musikal yang berkualitas.[Mudah-mudahan film karya Garin juga akan semenarik Kantata Takwa].



Tapi, melihat film ini saya jadi sedikit sedih. Karena faktanya, sekarang tak ada lagi gerakan budaya sebesar dan sepopuler ketika Kantata Takwa digelar. Gerakan budaya yang tak hanya akan masuk pada kalangan seniman, budayawan dan sejenisnya. Tapi juga akan diterima dengan baik oleh orang awam.


Kantata adalah kombinasi yang pas; Musisi paling digilai di Indonesia, bertemu sastrawan kelas atas, musisi/komposer handal, musisi/seniman gila, dan musisi/penyokong dengan kondisi finansial yang super berlebih.

Buat kamu yang penasaran ingin menontonnya. Berbahagialah, karena atas adanya teknologi digital yang kemudian membuat film ini bisa diputar di bioskop, Kantata Takwa akan diputar di Blitz Megaplex dari tanggal 26 September hingga 4 Oktober. Ini masih bisa diperpanjang jika masih banyak orang yang ternyata ingin menontonnya.

Dan oya, tolong dimaafkan poster filmnya yang jelek. Untuk kali ini, tolong jangan menilai sesuatu dari sampulnya.




Source : http://solehsolihun.multiply.com. ****

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Arsip Bulanan

Sejak Februari 2007

Web Site Hit Counters

falsmania sedang online