| Data Diri | Biografi | Diskografi | Info Acara | Berita |  

    | 

Suara Iwan Fals di Depan Mata

[ARTIKEL] Dari perhelatan Gala Primer Film “Batas” yang digarap Marcela Zalianty dkk melalui rumah produksi barunya Keana Production di Epicentrum Kuningan, Jakarta 12 Mei 2011, satu hal yang membuat saya berdecak kagum adalah mendengar dan melihat langsung suara emas sang legenda Iwan Fals.

Begitu acara dilanjutkan, pembawa acara menyebut kata-kata “Kita sambut, the legend, Iwan Fals!” Sontak tepuk tangan meriah yang belum terdengar sejak awal acara, pecah. Memang, karisma musik Iwan Fals yang terbangun selama beberapa dekade membuatnya pantas disebut legenda. Saat naik ke panggung pun, Iwan Fals masih nyaman dengan senyum khasnya dan menyampaikan terima kasih kepada semua yang menyambutnya. Sungguh bernilai tinggi.

Lagu yang dinyanyikan malam itu adalah “Batas Tak Berbatas”, lagu terbaru yang sekaligus menjadi lagu tema film “Batas”. Begitu Iwan Fals tertunduk ke arah jari-jarinya yang mulai memetik satu-dua senar gitarnya, suasana langsung hening, lalu tepuk tangan kembali pecah, lalu hening lagi.

Saya paling suka Iwan Fals menyanyikan lagu dengan musik akustik, karena benar-benar menampakkan karakter suaranya yang ringan namun sangat menyentuh. Lagu ini pun seluruhnya diiringi oleh petikan gitar akustik Sang Legenda sendiri, sangat syahdu, belum lagi karena memang liriknya sangat menyentuh. Lirik ini diciptakan oleh salah satu pencetus ide cerita “Batas”, Slamet Raharjo Djarot.

Saat Iwan Fals tak senyum lagi, bibirnya mulai melukis nada, lalu keningnya mengkerut seperti biasa.

Memang, saya bukan satu-satunya orang yang pernah melihat suara Iwan Fals dari dekat. Saya hanya menggambarkan kenyamanan tersendiri dalam perasaan saat mendengar lirik demi lirik dilantunkan oleh sang Legenda. Menurut saya ini kecerdasan bermusik, dan membalut seni secara keseluruhan, dipadu kekuatan karakter yang tak pernah berubah. Iwan Fals benar-benar legenda. Seorang musisi yang tak pernah tergantung antara langit dan bumi, tapi seakan-akan berada di keduanya pada saat yang bersamaan.

Film “Batas” tayang di bioskop-bioskop mulai 19 Mei mendatang. Lagu “Batas Tak Berbatas” sudah bisa didengarkan melalui radio-radio lokal Tanah Air.

*Catatan perjalanan, Jakarta 12 Mei 2011.
Oleh Afandi Sido (source : kompasiana.com) ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Album Baru "Keseimbangan", Memaknai Kehidupan

Oleh : Ukon Ahmad Furkon

[KUPAS ALBUM] Gebrakan di tahun 2010, Iwan Fals meluncurkan album baru secara independen. Di bawah bendera Fals Record dan PT Tiga Rambu, Iwan pun menempuh jalur penjualan yang tidak biasa: datang langsung ke kediamannya di Leuwinanggung, atau pesan melalui internet/sms/telepon dengan sistem pembayaran transfer bank dan kemudian kaset/CD dikirim melalui layanan jasa hantar barang.

Dibandingkan dengan sistem penjualan secara konvensional melalui toko kaset, tentu sistem ini agak membuat ribet bagi para calon pembeli. Namun, ada beberapa keuntungan yang dipetik Iwan. Keuntungan itu, saya rasa, bukan pada soal menekan pembajakan. Para pembajak yang semakin tak tahu diri itu, tidak akan mampu diatasi dengan sistem penjualan apapun, kecuali dengan penegakan hukum.

Yang menjadi keuntungan dari sistem ini: (1) Iwan akan memiliki basis data tentang penikmat musiknya yang loyal, dari mulai nama hingga alamatnya; (2) Iwan akan bisa mengontrol angka penjualan dengan akurat (selama ini dengan sistem konvensional distributor/perusahaan rekaman menyampaikan angka penjualan, tapi belum tentu seakurat dengan menjual sendiri).

Sistem penjualan non-konvensional ini akan menjadi lebih memudahkan para pembeli jika terdapat pilihan penggunaan sistem on-line murni: yakni pemesanan secara murni online (mengisi form isian melalui web) serta membayarnya pun secara online: melalui internet banking atau credit card.

Kembali ke albumnya sendiri, “Keseimbangan” sesuai judul albumnya, menawarkan pilihan yang beragam, mulai dari tema filosofi kehidupan dan kemanusiaan (Suhu, Ayolah Mulai, Aku Menyayangimu), religi/spiritual (Ya Allah Kami, ^O^), lingkungan (Hutanku, Pohon untuk Kehidupan, Tanam Siram Tanam), olahraga (Sepakbola), interaksi manusia dengan teknologi (Kuda Cokelatku), tokoh (Jenderal Tua, Malahayati). Pesan yang ingin disampaikan sepertinya: jika kita ingin seimbang dalam hidup kuncinya adalah (1) berpegang kepada Tuhan, (2) selalu peka terhadap kehidupan dan kemanusiaan, (3) peduli dengan lingkungan, (4) tak lupa berolahraga, (5) memanfaatkan teknologi secara bijak, dan (6) senantiasai mengambil hikmah dari para tokoh/kejadian terdahulu.

Dari sisi aransemen yang sepenuhnya digarap Iwan Fals & Band, album “Keseimbangan” menawarkan garapan yang lebih kuat dan berwarna dibanding garapan aransemen Iwan Fals & Band di album “50:50”. Ini sepertinya tak lepas dari masuknya kembali Totok Tewel memperkuat musik Iwan. Kecuali lagu “Ayolah Mulai” dan “Sepakbola” yang punya gaya berturut dan aransemen yang mungkin kurang familiar di telinga pop, aransemen lagu-lagu lainnya bisa masuk ke telinga banyak kalangan. Lagu yang saya rasa paling menonjol baik dari sisi aransemen maupun pesan adalah : “Suhu”, “Ya Allah Kami”, “^O^", “Aku Menyayangimu”, dan “Kuda Cokelatku”.

Point plus lain di album ini adalah cover dan bungkus kaset/CD yang digarap dengan profesional dan menarik oleh Heri hito.com, sangat berbeda dengan album “50:50” yang desain covernya seperti dibuat dengan alakadarnya. Point plus ini semestinya mendorong penikmat musik untuk tidak membeli album bajakan, karena di CD/kaset bajakan tentu tidak akan dibungkus dengan kualitas dan kelengkapan cover CD/kaset orisinal.

Agar bisa lebih mengundang penikmat musik membeli album orisinal, akan sangat baik jika ke depan PT Tiga Rambu juga menyisipkan merchandise ekslusif Iwan Fals satu paket bersama CD/kaset. Merchandise-nya bisa berupa stiker, kaos, dll yang saya rasa ongkos produksinya tidak begitu mahal.

Selamat kepada Iwan Fals dan terus berkarya.

Daftar Lagu :
Suhu, Ya Allah Kami, Hutanku, Pohon untuk Kehidupan, Tanam Siram Tanam, Ayolah Mulai, Aku Menyayangimu, ^O^, Sepakbola, Kuda Cokelatku, Jenderal Tua, Malahayati.

Musisi pendukung:
Iwan Fals (gitar akustik), Heirrie Buchaery (bass), Edi Daromi (keyboard), Totok Tewel (gitar), Deni Kurniawan (drum). Backing vocal : seluruh musisi dan Rossana Listanto (pada lagu ^O^). ***

Labels: ,

[Baca Selengkapnya]

Bongkar!

Oleh : Naniel C. Yakin

[ARTIKEL] Kelahiran Swami sendiri berawal dari kegundahan Iwan Fals yang sedang meng-alami musibah, karena rencana promo tur album rekaman terbarunya Mata Dewa ke 100 kota di Indonesia, sekitar tahun 1988, tiba-tiba izinnya dibatalkan oleh yang berwajib tanpa alasan yang jelas. Pada masa pemerintah Orde Baru saat itu, kegiatan yang mendatangkan massa merupakan ke-giatan yang patut diwaspadai. Apa lagi bila kegiatan itu terkesan bernuansa mengkritisi kebijakan pemerintah, termasuk kegiatan atau konser musik yang berani bersuara atau bernada kritik.

Ketika radiogram pelarangan dari Mabes Polri untuk memberitahukan pembatalan izin konser promo tour itu diterima AIRO sebagai EO, rombongan artis dan kru sudah berada di Palembang, sehari sebelum konser di kota tersebut berlangsung. Saat itu, saya ikut dalam rombongan dengan status sebagai wartawan dari sebuah koran sore ibukota (Suara Pembaruan), yang diundang untuk meliput oleh pimpinan Sofyan Ali, direktur AIRO yang menangani konser promo tersebut.

Kesedihan dan kekecewaan menyelimuti kita semua. Tapi apa boleh buat. Keputus-an tidak bisa diubah. Ada bisik-bisik bahwa kejadian ini berkait dengan peristiwa konser Iwan sebelumnya di Parkir Timur, Senayan, Jakarta, yang dianggap rusuh. Tapi ada juga gosip bahwa Iwan terlalu berani menyuarakan kritik saat di atas panggung. Tapi yang jelas pentas Iwan tidak mendapatkan izin saat itu.


Rombongan artis lainnya seperti Grass Rock dan Nicky Astria esok harinya kembali ke Jakarta. Tapi Iwan bersikeras untuk tetap berjalan sesuai jadwal ke kota-kota yang sudah dijadwal bakal dilewati konser promo ini. “Aku harus memberi penjelas-an pada publik di kota-kota itu, bahwa pembatalan ini bukan dari aku,” tegas Iwan yang berusaha tetap tegar.

Akhirnya Iwan, beberapa panitia, promotor dan beberapa wartawan, tetap tinggal untuk menyusun perjalanan selanjutnya. Saya bersama beberapa rekan wartawan musik ibu kota saat itu, antara lain Remy Soetansyah, Hans Miller Banureah, Toro dan satu lagi rekan dari koran Palembang, Sriwijaya Pos, termasuk yang diminta tinggal untuk menemani Iwan ke kota-kota tempat konser yang batal.


Selama perjalanan itulah saya banyak berkomunikasi dengan Iwan. Bahkan di saat-saat senggang saya sering terlibat diskusi, kadang sama-sama menulis lirik yang terus kami coba nyanyikan bersama. Sayang beberapa lirik yang berhasil kami jadikan lagu sampai saat ini tidak sempat kami rekam. Sekitar dua minggu kami berjalan sebelum kemudian kembali ke Jakarta.

Kembali ke Jakarta, Iwan semakin gelisah. Bahkan terbersit niatnya untuk tidak bermain musik lagi. “Mending aku jadi penulis di media saja dari pada main musik tapi tidak boleh tampil seperti sekarang,” cetusnya kesal. Kami makin sering bertemu dan mengobrol. Saya jadi sering main ke tempat tinggal Iwan di kawasan Condet, Jakarta Timur.

Dari hasil mengobrol, diskusi dan debat warung kopi di rumah Iwan itulah lahir beberapa lagu seperti “Condet” dan “Kebaya Merah” yang kemudian direkam di Swami II, dan “Bento”. Entah karena tidak punya beban, dan motivasi membuat lagu-lagu itu semata-mata karena keinginan berekspresi dari beban batin yang kami rasakan saat itu, lagu-lagu tersebut lahir begitu saja dengan cair tanpa hambatan.


Dalam kegalauan tersebut, sebenarnya Iwan punya sebuah pekerjaan yang sa-ngat penting yang harus ia selesaikan, yaitu rekaman album Kantata Takwa bersama WS Rendra (almarhum), Setiawan Djodi, Sawung Jabo dan Yockie Suryoprayogo. Di sela-sela jadwal latihan mereka, saya sering diajak Iwan main ke rumah Sawung Jabo di bilangan Pasar Minggu.

Sebelumnya, saya cukup sering bertemu Jabo. Bahkan ketika pertama kali saya ke Jakarta tahun ‘80-an, saya tinggal di rumah Jabo dan juga ikut bermain di grupnya, Sirkus Barock. Di rumah Jabo ini kami kembali mengobrol dan menelurkan beberapa lagu antara lain, “Oh Ya”, “Perjalanan Waktu”, “Badut” dan lain-lain.

Kami semakin tenggelam dalam perenungan-perenungan, mencermati keadaan sampai berusaha menyikapinya lewat kata-kata dan notasi. Kalau tidak di Condet, rumah Iwan atau Pasar Minggu, rumah Jabo. Kami bertemu di rumah saya di kawasan Perumnas Klender. Tidak jarang, tiba-tiba larut malam menjelang pagi mereka berdua datang mengetuk-ngetuk pintu rumah saya. Kami begadang, ngopi, mengobrol dan jadilah beberapa lagu seperti “Eseks-eseks Udug-udug”, “Cinta”, “Potret” dan lainnya. Mereka memang sengaja datang malam, karena pernah mereka datang sore hari, akibatnya rumah saya diserbu warga yang ingin ketemu Iwan Fals.

Rupanya kolaborasi ini memberi sema-ngat bagi Iwan. Dia mengusulkan untuk melatih lagu-lagu ini dalam sebuah kelompok musik. Jabo mengusulkan nama Tatas sebagai pemain keyboard dan Iwan sendiri menyorongkan nama Jerry, sebagai pemain gitar. Sedangkan untuk penggebuk drum dan pencabik bas, kami setuju merekrut Innisisri dan Nanoe. Kami akhirnya latih-an dengan formasi Iwan Fals (gitar, vokal), Sawung Jabo (gitar, vokal), Naniel (flute, vokal, perkusi), Innisisri (drum, vokal), Nanoe (bas, vokal), Tatas (keyboard) dan Jerry (gitar). Jabo mengusulkan nama Swami bagi kelompok ini. Kami setuju, “Oke, mulai saat ini grup ini kita namakan Swami!”.

Kami pentas pertama di kawasan Bintaro dalam acara ulang tahun sebuah ke-lompok pemanjat tebing. Saya ingat, kami masing-masing mendapat honor Rp 200 ribu. Kami berusaha mencari produser yang mau merekam lagu-lagu yang sudah kami latih ini, tapi ternyata susah. Hampir semua produser yang kami datangi selalu menjawab, “Bagaimana caranya kami menjual lagu-lagu macam ini. Bikin saja yang biasa,” kilah mereka umumnya. Lagu-lagu ini mereka rasakan terlalu keras, terutama liriknya. Pasti akan bermasalah bagi mereka kalau diedarkan.

Untung kedekatan Iwan dengan Setiawan Djodi di Kantata Takwa ternyata membawa berkah. Djodi bersedia membia-yai rekaman Swami. Kami pun kemudian rekaman di GIN Studio yang terletak di daerah Roxy. Tidak ada kesulitan, semua lancar sampai ketika Iwan menyodorkan lagu “Bongkar” yang nantinya disempurnakan oleh Jabo. Ada masalah pada lirik lagu ini yang mengundang kontroversi di antara kami. Dalam lirik lagu itu menyinggung nama-nama tempat yang merupakan kasus militer dan tabu diucapkan saat itu. Nama-nama itu seperti: Way Jepara, Kedung Ombo, Kaca Piring yang merupakan tempat kejahatan HAM berat. Kami khawatir kalau tetap tidak diubah akan jadi masalah bagi album ini.

“Ya, tapi kreativitas dan ekspresi kan nggak- boleh diatur-atur? Kita kan bukan kambing yang hanya menurut dibawa ke kanan, menurut dibawa ke kiri,” kata Iwan bersikeras.

“Ya, tapi kita juga harus berstrategi, Wan. Bukan masalah takut dan berani. Kalau nggak- boleh edar, buat apa kita mengerjakan rekaman ini? Kita kan bisa menyiasati dengan cara lain?” saya coba nimbrung, berusaha mencairkan suasana.

Akhirnya disepakati Jabo akan merevisi dan menyusun ulang sebagian lirik dari lagu “Bongkar” ini. Beberapa kali ditawarkan, akhirnya disepakati lirik seperti yang kita kenal sekarang dalam lagu “Bongkar” karya Iwan Fals dan Sawung Jabo. Lirik lagu ini memang agak berubah di penyajian, tapi visinya tetap. Liriknya lebih puitis tidak frontal seperti awalnya. Rekaman dan mixing-nya kami selesaikan sekitar satu bulan kerja di studio. Sayang begitu selesai rekam-an, karena alasan bersifat pribadi, Tatas dan Jerry mengundurkan diri. Maka dalam konser promo di Jogya, Salatiga, Semarang dan Surabaya, posisi keyboard dan gitar digantikan oleh Yockie Suryoprayogo dan Toto Tewel.

Komposisi pemain ini bertahan terus sampai rekaman Swami II dan konser Sumatra di kota-kota, Bandar Lampung, Padang dan Medan. Setelah konser di kota-kota tersebut, Swami tidak lagi mendapatkan izin untuk pentas dari pihak aparat keaman-an masa Orde Baru saat itu. Rekam-an kedua melahirkan beberapa hit macam “Kuda Lumping”, ”HIO” dan lain-lain.

Dari kesepakatan awal, Swami memang bukan kelompok musik yang dikonsumsikan bagi industri musik, tetap lebih pada kerja kreatif dari sebuah komunitas yang ber-usaha menyuarakan aspirasinya lewat bahasa musik. Swami sebagai sosok memang tidak bisa tampil karena tidak mendapatkan izin dari pihak berwenang saat itu. Tetapi suara yang sudah terlanjur berkumandang lewat serangkaian lagu-lagu yang mereka hasilkan sudah terlanjur didengar dan disukai oleh publik. Bahkan pecinta musik saat ini yang ketika lagu-lagu macam “Bento”, “Bongkar”, “Eseks-eseks Udug-udug” pertama kali diperdengarkan masih orok, sekarang ternyata banyak yang ikut mengapresiasi, menyukai, bahkan hapal -liriknya.

Atas persetujuan bersama, akhirnya disepakati oleh semua personel, tahun 1992 Swami dibubarkan. Itulah kelompok musik Swami dalam pandangan saya. Walau sudah tidak ada lagi, bahkan ada kesan kehadirannya tidak terlalu dicatat oleh industri musik, tapi grup ini tetap hidup lewat lagu-lagu yang mereka hasilkan. Selama masih ada pecinta musik yang menginginkan kejujuran ekspresi, maka saya rasa lagu-lagu Swami akan tetap hidup sebagai referensi, betapa kekuatan musik sebagai media -perlawanan! (source: Rolling Stone Indonesia) ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Iwan Fals, Sederhana dan Kharismatik

[ARTIKEL] Ada sesuatu yang menggelitik saya untuk menulis ini. Meski tidak secara pribadi, saya mengenal Iwan Fals sejak awal karirnya, ketika saya masih di SD. Saya bukan penggemar fanatiknya, tapi jika ditanya siapa penyanyi Indonesia favorit saya, jawabannya adalah: Iwan Fals.

Bicara soal Iwan Fals adalah bicara soal sosok yang belum ada duanya di dalam percaturan musik tanah air. Orang menyukainya bukan karena gemerlapnya gaya hidup, kegantengan, atau bahkan teknik vokalnya yang luar biasa. Sebaliknya, Iwan adalah seorang sosok yang sangat bersahaja (mekipun memang ganteng), apa adanya, dan bukan jebolan sekolah vokal mana pun. Ia mengawali karirnya benar-benar dari bawah.

Berangkat dari ngamen, ikut festival lagu-lagu humor (pernah jadi juara), hingga akhirnya menembus dapur rekaman. Itu pun tidak semulus yang kita bayangkan, karena rekaman pertamanya (sebelum Oemar Bakri) sempat jeblok. Pendeknya, Iwan Fals bisa seperti sekarang ini bukan dengan sim salabim. Dia tahu persis getirnya perjuangan untuk mencapai posisi yang saat ini diraihnya sebagai salah satu legenda musik Indonesia.

Salah satu yang saya sukai dari seorang Iwan Fals adalah kejujurannya, baik itu kejujuran dalam menuangkan ide-idenya ke dalam lirik lagu, maupun kejujurannya dalam bersikap. Simak saja bagaimana Iwan Fals mengungkap cinta misalnya.

'..hanya mampu katakan, aku cinta kau saat ini
entah esok hari, entah lusa nanti,
entah..' (ENTAH)

Di saat kebanyakan lirik lagu berlomba mengobral kata-kata muluk soal cinta, Iwan justru mengungkap cinta dengan cara yang berbeda, tidak munafik. Betapa sederhana, betapa jujur, karena bukankah tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita bisa mencintai seseorang selamanya?

Hal lain yang saya kagumi dari Iwan Fals adalah kharisma. Ini juga muncul dengan sendirinya dan tidak dibuat-buat. Orang yang punya kharisma tentu lain dengan orang yang 'jaim'. Penyanyi Indonesia mana yang memiliki penggemar-penggemar yang berasal dari berbagai kalangan sekaligus? Bahkan usia mereka juga sangat variatif, dari mulai yang seusia dengan Iwan, sampai ABG. Demikian juga status sosial.

Lalu apa sebenarnya yang dimiliki Iwan Fals sehingga ia memiliki nama yang demikian besar? Beberapa sudah saya sebutkan di atas.

*
Kejujuran, terungkap dalam sikap kesehariannya maupun terutama lirik-lirik lagunya. Dan kejujuran ini yang justru menjadi kekuatan dari lirik-lirik lagu Iwan Fals. Dan konsekuensi dari kejujuran ini juga yang dulu sering membuat Iwan berurusan dengan aparat keamanan, ketika lagu-lagunya dianggap 'meresahkan' atau bahkan membuat merah kuping penguasa.
*
Kharismatik. Ini memang sebuah gift dari Tuhan. Orang tidak bisa mereka-reka supaya dirinya kelihatan memiliki kharisma. Di balik sikap yang apa adanya, Ian Fals punya kharisma yang membuat orang segan dan menghormatinya.
*
Sederhana. Pernahkah Anda melihat Iwan Fals tampil 'centil' dan modis? Dari dulu, kostum kegemarannya adalah jeans dan t-shirt.
*
Tidak arogan. Ia bisa ngobrol santai sebagai teman denan penggemarnya. Dulu saya punya teman yang bahkan sering nginep di rumah Iwan. Sikap tidak arogan yang juga bisa kita lihat adalah aksi kolaborasinya dengan musisi-musisi muda. Ia tidak kelihatan canggung dan khawatir dengan kehadiran mereka. Sebaliknya mereka malah dirangkul untuk bikin lagu buat dia nyanyikan. Hasilnya? Ceruk pasarnya malah bertambah ke semakin banyak kalangan, termasuk ABG.
*
Tentu masih banyak hal lain yang membuat Iwan Fals menjadi seperti sekarang ini. Sosok penyanyi/musisi Indonesia yang samasekali bukan karbitan. Ia meraih puncak karir benar-benar merangkak dari bawah. Tempaan itulah yang justru membuatnya bisa seperti sekarang. Berjuang dan menjadi pendekar bagi kalangan grass root melalui lagu-lagunya yang sarat dengan kritik sosial. Contoh fenomenal adalah lagu Oemar Bakri. Saat itu,mana ada yang berani mengangkat tema seperti itu? Atau tengok lagu Bento yang ditujukan untuk 'Kau Tahu Siapa' (minjem istilah Harry Potter untuk menyebut Voldemort), klan penguasa yang nyaris tidak pernah tersentuh hukum.

Ia memotret apa adanya lewat lagu, meski akibatnya kadang-kadang harus berseberangan, bahkan berbenturan dengan penguasa. Tak salah jika majalah Times sempat menjulukinya The Asian Hero. [sumber : http://panjalu.multiply.com] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Sisi Lain Iwan Fals

[ARTIKEL] Nama ini, Iwan Fals, tak perlu lagi diperkenalkan. Sebagai musisi, ia sangat populer di negeri ini. Bahkan, sudah menjelma sebagai seorang Legenda Hidup.

Namun, tidak banyak orang tahu sisi-sisi lain Iwan sebagai seorang manusia biasa. Jikapun ada yang tahu cukup banyak, pastilah keluarga terdekat dan para penggemar fanatiknya. Ini beberapa fakta tentang pria bernama asli Virgiawan Listanto:

Iwan Fals adalah Keturunan Arab

Boleh percaya boleh tidak, yang jelas Iwan punya darah Arab. Lihat saja parasnya, dengan hidung mbangir dan rambut yang agak ikal. Ya, ibu Iwan adalah seorang perempuan keturunan Arab dari marga Abdat. Sang Bunda kini tinggal di kawasan Tebet. Sedangkan warga keturunan Arab dari marga Abdat banyak dijumpai di Tanah Abang. Hotel Nusantara di bilangan tanah abang merupakan salah satu hotel milik keluarga Abdat, yang masih punya hubungan darah dengan ibunda Iwan.

Iwan adalah pemegang sabuk hitam Dan IV Karate

Di masa muda, Iwan pernah menjadi juara dua nasional kejuaraan karate tingkat nasional. Ia bahkan pernah menjadi pelatih karate di Sekolah Tinggi Publisistik. Kini, Iwan adalah penyandang Dan-IV Karate aliran Wado-ryu (meski ada yang menyatakan aliran Amura, yang merupakan anak aliran Wado-ryu). Di rumahnya, Leuwinanggung, Iwan cukup sering menggelar latihan karate bersama.

Iwan pernah menjadi wartawan tabloid olahraga

Meski pernah menjadi pengamen, Iwan bukan berasal dari keluarga pas-pasan. Ayahnya adalah seorang perwira menengah TNI (jika tidak salah terakhir berpangkat Kolonel). Sebagai anak perwira, Iwan jelas pernah dikuliahkan. Ia sempat kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta (sekarang IISIP), sebelum pindah kuliah ke Institut Kesenian Jakarta. Nah, sebagai mahasiswa publisistik, Iwan pernah bekerja sebagai wartawan di sebuah tabloid olahraga. Bahkan, pernah menjadi kolomnis olahraga.

"Si Budi Kecil" teman kuliah di IISIP

Nama Budi, anak tukang koran yang menjual surat kabar sore di malam hari karena ketatnya persaingan --dalam lagu "Sore Tugu Pancoran", terinspirasi dari nama teman kuliahnya (di IISIP). Namanya, Budi Seno. [Sumber : http://kalipaksi.multiply.com] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Mengenal Sosok Sawung Jabo

[ARTIKEL] Sahabat, kali ini kita mencoba mengenal salah satu sosok sahabat Iwan Fals yang tentunya sudah tak asing lagi bagi kita, Sawung Jabo. Bersama Sawung Jabo, Iwan Fals antara lain bekerjasama dalam kelompok Swami, Kantata, minim album "Anak Wayang", dan lain-lain. Semoga Bermanfaat.

Sawung Jabo dilahirkan 46 tahun yang lalu di lingkungan masjid Ampel, Surabaya. Selain digembleng masalah agama, sejak kecil Jabo akrab dengan kehidupan seni tradisi.

Menginjak remaja, Jabo hijrah ke Jakarta untuk sekolah di STM Poncol. Saat itu ia kian giat bermain musik. Selain itu, ia pun kian giat menyalurkan hobinya: berpetualang menjelajahi hutan dan gunung. Kegemarannya ini kelak menginspirasi sebagian lagu-lagunya, seperti Bromo dan Surat dari Teman di Desa (album Badut) serta Perjalanan Awan (album Kanvas Putih).

Beberapa tahun kemudian Jabo pindah ke Yogyakarta untuk mendalami komposisi dan cello di Akademi Musik Indonesia. Berbekal pendidikan musik formalnya, ia mulai mencipta musik dengan bermacam gaya, mulai dari pop, klasik, hingga avant-garde.

Tahun 1976, bersama kawan-kawannya seperti Innisisri dan isterinya sendiri, Suzan Piper, Jabo mendirikan kelompok Baroque yang kemudian berubah nama menjadi Sirkus Barock. Kelompok ini didirikan di Yogyakarta sebagai realisasi konsepnya mengenai lingkungan kreatif yang multimedia. Oleh karena itu, jangan heran, ketika Sirkus Barock tampil di atas panggung, yang hadir bukan hanya musik tapi juga aneka seni performance.

Pada rentang tahun 1970-1983 Jabo menimba pengalaman hidup di Australia. Saat itu ia sempat menjadi pendukung film The Year of Living Dangerously bersama Mel Gibson. Selain itu, ia pun sempat menyutradarai teater Kisah Perjuangan Suku Naga bersama istrinya di sana.

Sekembalinya dari Australia Jabo segera memperjuangkan mutu lingkungan kreatif Sirkus Barock. Maka lahirlah empat album mereka, yakni Sirkus Barock, Bukan Debu Jalanan, Kanvas Putih, dan Fatamorgana. Dari album-album tersebut, boleh dikatakan Jabo merupakan nyawa dari kelompoknya, baik dalam konsep musik maupun dalam pembuatan melodi dan lirik.

Selain makin intens di Sirkus Barock, Jabo pun ber-workshop di kelompok lainnya, yakni Bengkel Teater Rendra, Swami, Dalbo, Kantata Takwa dan Kantata Samsara. Ia berinteraksi dan berkolaborasi dengan seniman-seniman ternama seperti Iwan Fals, WS Rendra, Setiawan Djody, dan Jockie Suryoprayogo. Berbeda dengan perannya di Sirkus Barock yang sangat dominan, peran Jabo di kelompok-kelompok ini tak lebih menonjol dari rekan-rekannya yang lain, mengingat grup-grup ini lebih mengedepankan ekspresi kelompok daripada ekspresi individu.

Di tengah kesibukan berkreasi bersama kelompoknya, Jabo sempat mengeluarkan album solo bertitel Badut. Ia juga membuat lagu untuk penyanyi dan grup lain, seperti Nicky Astria dan God Bless. Di samping berkecimpung di dunia musik, ia pun menciptakan koreografi, sajak-sajak, dan esei. Belakangan, ia mulai melukis.

Bukan sekedar hiburan

Menurut Jabo, keberadaannya di dunia musik pada dasarnya didorong oleh keinginan untuk menciptakan musik yang tidak sekedar berfungsi sebagai hiburan. Ia menuturkan, "Lewat musik saya ingin menyampaikan kenyataan hidup sehari-hari. Ini karena musik pada dasarnya memang bukan sekedar sarana hiburan. Musik sebagai sekedar hiburan tak lagi dapat diterima. Musik dapat pula menjadi sumber berita dan informasi. Juga, musik bisa menjadi barometer hal-hal yang perlu diubah." Dalam konteks sekarang, barometer hal-hal yang perlu diubah itu mempunyai spirit yang sama dengan sebuah kosa kata yang kini tengah hangat-hangatnya dibicarakan: reformasi.

Semangat Jabo itu dituangkan ke dalam lirik-lirik yang kritis, kadang dilontarkan dalam bahasa yang lugas, kadang pula dibalut dalam gaya yang lebih kontemplatif dan simbolis. Lewat lagunya ia bicara tentang orang-orang yang sok jagoan, tentang lingkungan hidup, tentang kesewenang-wenangan, hingga tentang korupsi dan kolusi. Jabo juga bicara tentang cinta dengan gayanya yang khas: romantis dan sarat permenungan.

Gaya lirik Jabo dalam merespon kondisi sosial di sekitarnya, antara lain dapat dinikmati pada lagu Sarat (album Kanvas Putih) berikut ini:

Aku berjalan di antara orang resah
aku mendengar suara sumbang di dinding rumah
mereka sarat dengan persoalan-persoalan kehidupan
seperti kereta tua mereka berjalan kepayahan

Kurasakan getar kehidupan
merobek-robek tidurku
tidakkah kau rasakan itu?
apakah kau telah menjadi batu?

Masihkah berguna kita berdiskusi lagi
sementara persoalan sudah sampai ke tepi
datanglah kemari pahami mereka…

Tapi bukan Jabo kalau hanya mengkristalkan persepsinya tentang situasi sosial lewat lirik semata. Ia menghadirkannya pula lewat musik yang serba menggantung. "Perlambang suasana mencekam dan keterinjakan," ujarnya.

Dalam perjalanan kreatifnya, Jabo tak hanya mengembara dalam mencipta lagu, tetapi juga mengembara dalam mengekspresikan lagu. Ia manggung di lapangan luas, seperti Stadion Utama Senayan, juga di tempat-tempat berkapasitas kecil seperti Dago Tea House Bandung. Tak hanya itu. Jabo pun manggung di tempat-tempat yang tak biasa bagi seniman kebanyakan, termasuk di lembaga pemasyarakatan (LP). [red] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Iwan Fals : Tetaplah menjadi pahlawan sejati

[ARTIKEL] Nonton Iwan Fals di tv beberapa waktu lalu, cuman satu kata “Merinding !!”

Gila, walaupun gak liat langsung, cuman liat lewat tv aja kok bisa merinding, perasaan tiap hari dengerin lagu-lagu Iwan, tapi kok tetep aja yak.

Sejak tahun ‘98 memang saya mulai ngefans banget sama om Virgiawan Listianto, plus pas kuliah gak lepas dari cekokan seorang teman, memang ngakunya dia dari kelas 3 SD udah mulai nyanyiin lagu-lagunya om Iwan, well..jadilah sampai sekarang kalau sehari aja gak dengerin suara yang menggelegar itu pasti ngerasa ada seseuatu yang kurang (hehe…suer gak berlebihan ini mah)

Kenapa kok bisa ngefans?, jawabannya sederhana, bukan hanya dari segi suara yang kharismatik (konon dalam beberapa dekade ke depan gak akan ada lagi penyanyi yang punya suara seperti ini) Iwan Fals juga seorang penulis lagu yang brilian, lagu-lagunya itu “timeless”, gak akan habis digerogoti waktu, boleh dibandingkan dengan penyanyi atau band masa kini, paling lagu-lagu mereka cuman tahan sampai 5 tahun aja, apalagi dulu zaman kita dijajah oleh saudara sendiri, om Iwan ini pasti bakalan maju menyanyikan lagu-lagu yang menentang ketidak adilan, walaupun taruhannya karir dan bahkan nyawanya sendiri!, makanya saya sangat setuju dengan predikat “Hero of Asia” yang diberikan majalah Time.

Beside that, coba perhatikan lirik-liriknya Iwan Fals, semuanya dekat dengan realita kehidupan kita, ada beberapa lagu yang liriknya memang sangat berani, jorok, bahkan kotor, tapi ya memang itulah realita yang terjadi. Memang beberapa tahun kebelakang Iwan Fals sempat merilis album yang berkolaborasi dengan pencipta lagu dari generasi baru, cuman jujur aja dengan album yang itu saya sedikit kecewa, isinya 90% industri musik.

Secara pribadi saya mengharapkan Iwan Fals tetap konsisten dengan genre khasnya, tetap dekat dengan realita kehidupan, karena sekarang musik sudah menjadi sebuah komoditi industri, siapa aja bisa bikin komoditi yang seperti ini, asal modal tampang, dan kuat modal, plus lagu yang kata orang dalem pasti bakalan “sukses” di negeri ini.

Siapa lagi yang berani maju kalau ada ketidakadilan di sini selain Om Iwan ?

NB: Buat yang belum pernah dengerin lagu Iwan Fals, tunggu apalagi ? [Oleh: Ridwan Nugraha, source: http://ridwannugraha.blogdetik.com] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Memilih Ikon Bagi Pabrikan: Kasus Iwan Fals sebagai DUta TVS

[BERITA] Saya berniat menulis postingan ini karena terinspirasi oleh iklan TVS yang baru, yang tidak lain dan tidak bukan memuat Bang Iwan Fals sebagai duta TVS di Indonesia. Saya pikir wah bagus juga nih strateginya, dengan menggandeng seorang yang sudah kita kenal di negeri ini. Tapi saya pikir-pikir lagi, apa toh sebenarnya yang harus dipertimbangkan dalam menunjuk sosok sebagai ikon pabrikan.

Kita lihat dulu dari Yamaha, iklan-iklannya banyak menonjolkan sisi humor, canda, slenge’an, dan hiperbolis yang dikemas dalam pesan yang cukup kontroversial. Siapa yang bisa menonjolkan keunikan ini? Selain Thessa Kaunang yang merupakan ikon MIo, ada Komeng yang merupakan titik pusat segala kehebohan dalam iklan Yamaha.

Nah kini bisa kita lihat, imej yang mau dibuat apa sih? Yamaha terkenal dengan iklannya yang urakan dan kesan kencang dalam setiap produknya. Tidak akan cocok bila katakanlah Ebiet G. Ade yang menjadi ikon Yamaha, belum pernah lihat mas Ebiet naik motor sampai bajuny sobek-sobek kan?

Nah soal kekhususan dan keunikan produk juga mesti diperhatikan. Apa sih yang istimewa dari Mio? Ternyata memang motor ini dikhususkan bagi kaum hawa. Keputusan Yamaha dalam menggandenga Thessa Kaunang adalah tepat, setidaknya ada aura feminin dalam sosoknya, agak bertabrakan dengan imej bila Yamaha menggandeng katakanlah Melly Goeslaw yang imejnya agak-agak nyentrik gimana gitu.

Beralih ke Suzuki yang belum lama ini menobatkan grup musik UNGU sebagai ikon mereka. Jujur pertama kali saya mendengar berita ini saya agak bingung, maksudnya apa? Ungu sendiri bisa dikata belum bisa dibilang sebagai grup yang legendaris, selegendaris katakanlah GIGI atau DEWA, setidaknya dilihat dari jam terbangnya. Jadi apa yang membuat mereka dipilih oleh Suzuki, tentunya Suzuki tidak asal pilih cap-cip-cup toh?

Setelah saya renungkan kembali ternyata yang menjadi nilai plus dari Ungu adalah faktor kekiniannya. Mereka bisa dibilang sedang naik daun sekarang, dikontrak dalam banyak iklan, dipuja-puja penggemarnya, meskipun fan basenya belum sekuat hmm, SLANK. Tapi dengan faktor kekinianya, mereka layak dijadikan ikon. Apakah setelah mereka tenggelam oleh band-band baru nanti mereka akan tetap dikontrak? Rugi donk, keputusan yang pahit adalah dengan tidak lagi mengontrak mereka. Gampang memang, namun dalam prakteknya gonta-ganti ikon tidak baik bagi “kesehatan” imej. Imej yang sudah dibangun berantakan gara-gara sang pembawa bendera tidak lagi dikenal. Maka faktor kekinian juga perlu dilihat dalam jangka panjang.

Lalu soal bang Iwan yang baru saja menjadi duta TVS. Tidak sulit mencari alasannya, bang Iwan memiliki fans base yang kuat lewat Oi (Orang Indonesia). Juga sudah dikenal selama kurun waktu yang lama. Faktor legendaris menjadi pertimbangan kali ini. Cukup bagus juga strategi TVS kali ini.

Tambahan adalah TVS menganggap Iwan Fals memiliki visi yang sama dengan mereka. Menampung suara rakyat dan mengolahnya menjadi produk, lagu untuk bang Iwan dan motor bagi TVS. Faktor kesamaan visi bisa dilihat disini, meskipun sebenarnya sulit juga menemukan sosok-sosok terkenal yang memiliki visi yang sama dengan para produsen.

Nah itu saja yang bisa saya bagikan kali ini. Bagi para pabrikan yang belum punya ikon atau duta bagi pabrikan mereka. Siap-siap saja karena saya lihat strategi semacam ini penting juga, jangan terlalu terikat dalam zona aman lah… [source: http://fanderlart.wordpress.com] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Film KANTATA: euforia itu muncul kembali

[ARTIKEL] Mengenal sosok Virgiawan Listanto atau lebih dikenal dengan iwan fals ketika masih dibangku SMP. Bukan Bento, ataupun Bongkar justru album Dalbo dan Anak Wayang yang membuat aku mulai mencari tahu tentang iwan fals. ”Dalbo itu anak genderuwo” demikian ujar temanku berkelakar. Dari dia aku banyak tahu tentang bang iwan, awal awal aku lebih suka membeli album the best dari pada albumnya. Ada alasan sebagai berikut, kalau the best lagunya bisa sampai 18 kalau yang album paling 10. lama kelamaan hampir semua the best dah aku punya. Mulailah aku ngumpulin lagu lagu yang belum pernah aku dengar dan itu biasanya ada di album. Album yang paling bekesan adalah Hijau sampai 2 kali aku beli karena sempat hilang, walaupun harus ”ngubek-ubek” seluruh solo untuk mendapatkannya. Selama pengumpulan kaset ada satu kaset bajakan, aku membeli album Cikal bukan original. Alesannya aku gak nemuin itu di toko kaset. Dan anehnya walaupun bajakan tapi covernya ada teks lagunya.... aneh.

Oi......

Menunjuk iwan tak lepas dari Oi nya. Oi yang diplesetkan menjadi akronim dari Orang Indonesia. Padahal kalau rekan rekan ikut Munas Pertama Oi tanggal 16 Agustus Tahun1999 bang iwan menyebut Oi itu seruan, bisa seruan untuk berperang, bekerja dan lain – lain. Demikian kalau tidak salah kata kata beliau. Kebetulan pada munas Oi pertama aku termasuk 1 dari 6 kelompok Oi kota solo yang ikut hadir. Selain aku yang mewakili adalah, Hio Ariyanto, Baron dan Cepi dari Oi Bento house, serta Arief dan Budi dari Oi Pasoong. Jujur aku menyesal kenapa waktu tahun 1999 aku belum se”cerdas” sekarang. Mungkin disitu aku yang paling muda 17 tahun kala itu. Tidak pernah terpikir di benak ku membangun sebuah hubungan dengan teman se Indonesia. Kala itu hanya berpikir bertemu iwan, salaman, photo, minta tanda tangan. Ada kejadian unik mengenai photo. Kalau rekan tahu dulu sebelum dan sesudah munas Iwan punya Nazar tidak mau berphoto di dalam area rumah. Photo boleh dilaksanakan asal diluar area rumah. Yang menarik pada saat prosesi penyerahan hadiah termasuk kepada mas Hio sebagai pemenang lomba logo Oi juara 1 dan juara 2 ada rekan rekan Oi yang sebenarnya memotret para juara tapi iseng memotret iwan yang menyerahkan piala. Seketika itu juga iwan langsung berteriak, mungkin itu ledakan emosi darinya ketika para fans nya tidak bisa diberi tahu. Setelah itu seperti ada kesan hambar, terlihat jelas suasana penyesalan dari rekan rekan Oi semua. Mungkin guratan sesal itu terbaca oleh bang iwan. Dan akhirnya bang iwan sempat menyanyi bersama sama kita.

Digo Menjadi Bintangnya

Digo mungkin yang menjadi bintang kala itu, lagu ciptaan nya dijadikan mars Oi. Selain suara yang kirip wajahnya juga mencerminkan iwan dikala tahun 90an awal. Selain itu Tabloid Musik MuMu kala itu mewawancari salah seorang fans dari daerah sumatra (jambi kalau tidak salah) yang tunanetra. Sebuah loyalitas yang luar biasa.

Hijrah Ke Jakarta....

Setelah lulus STM aku meneruskan kuliah dijakarta, jujur disini sebenarnya ada peluang besar untuk kembali aktif di Oi. Akan tetapi aku mencari cari Oi disekitaran tempat tinggalku ternyata tidak ada, ada korwil tanggerang letaknya lumayan jauh. Akhirnya kecintaanku terhadap Oi mulai pudar. Akan tetapi spirit Iwan dan kecintaan ku terhadap iwan masih ada dan tetap akan ada.

Gairah itu ada lagi.

Setelah beberapa bulan gagal untuk nonton dipanggung kita, film kantata akan segera tayang, kecintaan, euforia, fanatisme, atau apapun itu namanya. Terhadap iwan muncul kembali. Teringat konser konser megah kantata sebelumnya. Jadi salahkah aku kalau merindukan mu lagi idolaku.

Sekelumit kisah tentang kecintaan ku terhadap Iwan fals. [Oleh : Arista Budiyono] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Selamatkan (Kualitas) Musik Indonesia!

Kuatnya desakan untuk menebar ratapan cinta, bahkan menjebak Ahmad Dhani yang konon punya misi mencerdaskan selera musik Indonesia, untuk ikut melahirkan karya yang mulai terlihat picisan seperti yang terlihat pada projek "Munajat Cinta" bersama The Rock. Kencangnya tuntutan produser telah pula memaksa musisi sekaliber Iwan Fals untuk merelakan setengah sisi dari album "50:50" diisi oleh lagu-lagu jualan.

Lihat di http://www.pikiran-rakyat.co.id edisi 23 Desember 2007

Oleh UKON AHMAD FURKON

SEANDAINYA saat ini Harmoko masih menjadi Menteri Penerangan, boleh jadi dia tengah berpikir untuk kembali mengeluarkan peraturan sebagaimana pernah ia terbitkan pada dekade 1980-an, melarang peredaran lagu pop cengeng. Melalui tulisan ini kita tentu tidak sedang mempertimbangkan opsi larang-melarang yang tak punya tempat dalam peradaban budaya maju. Akan tetapi, bahwa lagu-lagu cengeng kembali meruyak dan semakin menguat dalam satu tahun terakhir, itu adalah fakta yang tak terbantahkan.

Homogenitas pilihan tema serta penggunaan kata dan kalimat yang miskin dan serampangan, begitu mudah kita temukan. Di banyak lagu, terhidang kata-kata tipikal seperti "maaf", "bintang", dll. Demikian pula dengan tema yang melulu cinta, terutama yang berkisah soal pupusnya harapan cinta, patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan, ratapan akan datangnya seorang kekasih, atau malah lebih "menye-menye" lagi.

Rasa prihatin layak pula disematkan pada sisi musikalitas. Untuk mencoba eksis, sepertinya ada formula instan, yakni racikan musik melankolis dan mendayu-dayu. Kita tak habis pikir ketika suatu grup band yang telah membawa musik cengeng pada kadar yang semakin parah, dengan kualitas musikal dan vokal yang sangat pas-pasan, justru laku di pasaran.

Kita juga heran mengapa musisi sekaliber Melly Goeslaw dan Anto Hoed yang dulu sempat melahirkan karya-karya provokatif dan cerdas lewat grup Potret, kini terlihat begitu "ngejar setoran" lewat projek "jual tampang" bernama "Bukan Bintang Biasa" (BBB).

Apa yang tengah terjadi pada musik Indonesia? Apakah selera penikmat musik sedang terjerembab pada titik terendah, idealisme para musisi telah semakin terdegradasi, ataukah kuasa para pemilik modal tambah dominan dan semakin berorientasi uang?

Perangkap Siklus

Menyibak kembali lembaran sejarah, sepertinya perjalanan musik Indonesia terperangkap dalam suatu siklus. Di tahun 1970-an, musik kita sempat mencatatkan tinta emas dengan lahirnya karya-karya bermutu seperti "Badai Pasti Berlalu" garapan Eros Djarot dkk, projek Guruh Gipsy, "Ken Arok"-nya Harry Roesli, repertoar Yockie Soeryoparyogo bertitel "Musik Saya adalah Saya", hingga ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang melahirkan musisi-musisi andal.

Namun, di era 1980-an musik kita tak kuasa membendung serbuan lagu mendayu-dayu. Dengan bantuan acara-acara musik di TVRI seperti Aneka Ria Safari, Selekta Pop, dan Kamera Ria, lagu-lagu seperti "Hati yang Luka" (Betharia Sonata), "Gelas-gelas Kaca" (Nia Daniaty), "Jangan Sakiti Hatinya" (Iis Sugianto), atau "Antara Benci dan Rindu" (Ratih Purwasih) mampu membius pasar musik. Pencipta lagu seperti Obbie Messakh, Deddy Dores, Rinto Harahap, dan Pance Pondaag pun mengecap popularitasnya.

Sampai akhirnya Harmoko yang menjabat Menteri Penerangan saat itu mengeluarkan kebijakan untuk membredel lagu-lagu cengeng seperti itu. Memasuki era 1990-an musik Indonesia mendapatkan angin segar. Saat itu bermunculan musisi-musisi berpendirian. Ketika ruang berkesenian masih dihantui represi, musisi saat itu justru mampu menempatkan album sebagai sarana berekspresi, berpendapat, dan punya posisi penting dalam kehidupan secara keseluruhan. Totalitas mereka berikan untuk melahirkan karya-karya yang bermutu, dari mulai konsep musik, lirik, artwork sampul album, hingga video klip. Begitu banyak eksplorasi hingga terlahir karya-karya yang bergizi.

Lantas, kita memiliki KLA Project dengan lagu-lagu cinta universalnya yang dalam dan menyentuh. Ebiet G. Ade, Iwan Fals, Swami, Slank, hingga Kantata Takwa dengan kontemplasi dan protes-protes sosialnya, juga sederet nama lain yang layak dibanggakan seperti Dewa 19, Gigi, hingga Padi.

Di Bandung, Pas Band menjadi inspirator lahirnya gerakan bermusik independen di tanah air lewat mini album legendaris bertitel "4 Through The Sap".

Menginjak awal milenium baru, sepertinya serbuan pop cengeng mendayu-dayu kembali mengencang. Begitu banyak pendatang baru yang hadir dengan pola seperti itu sampai akhirnya disempurnakan oleh kehadiran Kangen Band.

Kuatnya desakan untuk menebar ratapan cinta, bahkan menjebak Ahmad Dhani yang konon punya misi mencerdaskan selera musik Indonesia, untuk ikut melahirkan karya yang mulai terlihat picisan seperti yang terlihat pada projek "Munajat Cinta" bersama The Rock. Kencangnya tuntutan produser telah pula memaksa musisi sekaliber Iwan Fals untuk merelakan setengah sisi dari album "50:50" diisi oleh lagu-lagu jualan. Barangkali ini merupakan trik Iwan untuk sedikit berkompromi mengingat iklim musik yang tidak bersahabat. Namun, akan jauh lebih membanggakan jika Iwan mampu "istiqomah" dan kembali ke "khittah"-nya.

Beruntung, sepanjang tahun 2007 masih ada beberapa nama yang menawarkan titik cerah di tengah kesumpekan. Para musisi yang lebih senior boleh tertunduk malu karena titik cerah itu justru dihadirkan oleh penyanyi belia bernama Sherina lewat album "dewasa" pertamanya, "Primadona".

Berbeda dengan sebagian besar penyanyi, Sherina mencipta sendiri sebagian besar musik, lirik, dan aransemennya. Hasilnya, suatu karya out of the box, dengan sajian musik yang elegan dan lirik-lirik yang tidak pasaran.

Selanjutnya ada Padi yang kembali memberi pelajaran bagaimana cara bermain musik yang baik dan benar. Lewat album baru mereka, "Tak Hanya Diam", Padi mengusung sajian musik gemilang dengan lirik-lirik yang semakin menunjukkan kepedulian pada masalah-masalah sosial.

Beberapa album lain yang masih membangkitkan kebanggaan pada musik pop tanah air antara lain album "Hari yang Cerah" (Peterpan), "Peace, Love `n Respect" (Gigi), "Televisi" (Naif), "Free Your Mind" (Maliq & D`essentials), dan "Slow but True" (Slank).

Di jalur indie, dua jempol layak diberikan kepada band bernama Efek Rumah Kaca yang menelurkan album dengan titel yang sama. Lewat album tersebut, Efek Rumah Kaca menawarkan pilihan lirik dan nada yang atmosferik dan dalam. Ada lagu "Cinta Melulu" yang dengan jitu mengkritik kondisi musik Indonesia saat ini. "Di Udara" yang memberikan apresiasi pada perjuangan almarhum Munir, serta sederet lagu-lagu berkelas lainnya.

Peran Media

Terperosoknya kualitas musik Indonesia yang semakin kentara dalam satu tahun terakhir, bukan semata tanggung jawab musisi, penikmat, dan produser musik. Gugatan layak pula dialamatkan kepada media, baik cetak maupun elektronik. Mencerdaskan pasar musik, justru semakin rajin melakukan aksi pembodohan melalui acara-acara hiburan yang melulu mengobral gosip dan kehidupan pribadi artis.

Jika kita amati, dari puluhan acara infotainment yang saat ini eksis di televisi, tercatat hanya acara "Show Biz News" (Metro TV) yang mampu menjalankan perannya dengan baik. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan (kualitas) musik Indonesia, media punya andil besar.

Di tahun 2008, sinergi seperti itu semoga mulai menemukan bentuknya, terlebih infrastruktur musik semakin mendukung. Jaringan internet dan perkembangan teknologi digital menjadi modal penting bagi musisi untuk keluar dari tekanan para pemodal besar. Sementara itu, barcode PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi & Pencipta Lagu Republik Indonesia) yang mulai diberlakukan pada album musik yang mampu mengawasi hasil penjualan secara lebih presisi dan transparan, menempatkan musisi pada posisi yang semakin berdaya dalam tata niaga musik di tanah air. ***

Penulis, pemerhati musik, tinggal di Bandung, bekerja di Jakarta.


Labels:

[Baca Selengkapnya]

IWAN FALS : THE ROLLING STONE INTERVIEW

[ARTIKEL] Manusia ½ Dewa dari Leuwinangung ini akhirnya bersedia bersaksi tentang kondisi negara, pencekalan, pendidikan di Indonesia, komunis, Munir, SBY serta album mutakhir 50:50 yang menjadi album keseimbangan tentang cinta dan sosial yang menjadi tanggung jawabnya.

Oleh Adib Hidayat

Saya satu diantara ribuan orang yang ikut menyemut di Lapangan Pancasila, Salatiga malam itu. Salatiga adalah sebuah kota di Jawa Tengah yang terletak diantara Semarang dan Solo, dikenal salah satunya karena ada Universitas Kristen Satya Wacana yang begitu dinamis saat itu. Dinamis berkat dosen berkualitas seperti Arief Budiman dan Ariel Heryanto yang kala itu masih mengajar di kampus itu. Rumah saya di daerah Suruh, sekitar 10 kilometer dari Salatiga. Saat itu bulan Maret tahun 1990. Lagu “Bento” dari Iwan Fals bersama kelompok Swami sedang menjadi hits, termasuk di kota kecil, dingin dan teduh seperti Salatiga. Dan malam itu Swami lengkap dengan Iwan Fals datang memberikan konser yang lebih mendekati semangat perlawanan daripada sebuah hiburan musik semata. Tahun 1990 Soeharto masih berkuasa penuh. Iwan Fals dan Swami memberikan “perlawanan” lewat lagu. Rombongan Swami yang datang dan siap “tempur” adalah Iwan Fals, Sawung Jabo, Naniel, Nanoe, Inisisri, W.S. Rendra, Setiawan Djody dan banyak lagi.

Tanah berpijak tempat saya berdiri serasa bergetar. Sesekali tubuh saya terdorong ke samping kanan dan kiri. Bahkan beberapa kali kaki saya terinjak. Belum lagi orang-orang di depan saya yang kerap menutupi pandangan mata saya kearah panggung besar yang berdiri kokoh di depan saya. Tapi saya tidak peduli. Saya sedang mengikuti “dakwah” politik dan musik. Saya sempat mengumpat, pasalnya kaca mata minus 2 yang biasa saya pakai tertinggal di rumah. Membuat pandangan saya kurang jelas melihat sosok Iwan Fals dan yang lain. Kabur. Sialan benar.

Sementara saya sibuk memelototkan mata melihat ke panggung ribuan orang seperti berada dibawah pengaruh hipnotis. Bernyanyi, berteriak, menjerit, dan menangis tanpa peduli dengan sekelilingnya. Semua teriak lantang menyanyi. Semua hapal diluar kepala. Apalagi saat “Bongkar” di nyanyikan oleh Sawung Jabo dan Iwan Fals yang kompak. Mereka berdua bertelanjang dada, “O..o…ya o…ya o ya Bongkar!” kata Iwan dan Jabo yang direspon dengan gempita oleh umat yang datang malam itu. Nuansa kebebasan sungguh terasa. Bebas berteriak dan bernyanyi. Malam itu. Saat itu OI belum ada. Yang lebih terkenal adalah Fals Mania. Saya seorang diri terjepit diantara ribuan Fals Mania malam itu. Iwan Fals bagi saya adalah perwujudan dari sosok idola, dewa, bahkan raja. Dia juga seorang nabi bagi ummatnya. Dan saya menjadi salah satu ummatnya pada malam itu menyaskikan dirinya berkhutbah lewat lagu.
___________________

Itu pertama kali saya mengalami interaksi emosianal secara langsung dengan Virgiawan Listanto, akrab disapa Tanto di keluarganya. Tapi lebih diakrabi lagi oleh jutaan orang di Indonesia dari ujung Aceh sampai Irian dengan nama Iwan Fals. Dan pada suatu siang di akhir Maret 2007 setelah 17 tahun “pertemuan” itu saya kembali bertatap muka dengan Iwan Fals. Kali ini di padepokan Iwan Fals di Leuwinanggung. Saya sedang tidak hendak menyaksikan Iwan Fals bersenandung. Saya hendak melakukan interview dengannya. Leuwinanggung adalah sebuah komplek seluas 6000 meter lebih yang di dominasi warna abu-abu. Warna kesukaan Iwan Fals mungkin.

Sosok dan kharismanya awalnya membuat saya sungkan padanya. Tapi dewa yang satu ini ternyata sangat ramah. Amat ramah malah. “Sekarang kita makan dulu ya,” kata Iwan sambil tanpa sungkan memasukkan sepotong paha ayam dari McDonalds yang dibeli oleh Widi, staff dari Musica Studio’s saat saya baru tiba. “Wah kita makan produk Amerika nih,” cetusnya sambil terkekeh. Terasa ada sesuatu yang hendak disampikan Iwan Fals dalam misteri tawanya itu. Iwan Fals makan McDonals. Ini menarik.

Iwan Fals tampak sehat. Badannya mulai menggemuk. Rambut mulai memutih. Di bagian depan rambutnya mulai jarang. Efek usia. Tak ada yang bisa melawan. Celana jeans yang dia pakai tampak pas membalutnya. Juga dengan T-shirt warna abu-abu polos yang melekat di badannya dan dimasukkan ke celana dengan ikat pinggang hitam yang mengikat. Sebuah kacamata minus dipakainya siang itu. Polos adalah warna kesukaan Iwan Fals. Dirinya tidak mau memakai atribut atau logo-logo tertentu yang membuatnya seolah menjadi “milik” atau “wakil” dari produk yang menjadikannya sebagai sebuah simbol produk.

“Iwan bukannya tidak mau. Banyak yang menawarkan produk dan meminta Iwan menjadi bintang iklannya. Tapi dia belum mau. Belum tahu kapan waktu yang tepat. Kami sering diskusi soal ini. Kadang saya yang lupa, dia yang mengingatkan visi dan misi tidak mau terikat dengan produk tertentu. Tapi kadang dia sendiri juga lupa,” kata mbak Yos, istri yang menemani hidup Iwan Fals sejak Maret 1981. Mereka kerap saling mengingatkan. Pula saat Iwan terus larut dalam kesedihan sepeninggal almarhum Galang Rambu Anarki pada April 1997 lalu. “Saya bilang pada Iwan, saya juga kehilangan. Kami sama-sama kehilangan. Akhirnya kami bisa bangkit dan merelakan kepergian Galang.” Lagu “Hadapi Saja” dari album Suara Hati menjadi penanda “ikrar” mereka berdua untuk merelakan kepergian Galang untuk selamanya.

Hampir 26 tahun Iwan Fals ditemani Rosanna atau akrab dengan panggilan Yos. Sejak tahun 1999 pula secara resmi Yos menjadi manajer Iwan Fals. “Enak, manajernya bisa diajak tidur bareng,” celetuk Iwan Fals yang disambut senyum simpul Yos yang sedang asyik mengawasi Rayya Rambu Robbani. Putra bungsu mereka di pendopo tempat berlangsung interview. Annisa Cikal Rambu Basae, kakak dari Rayya saat saya datang katanya sedang kuliah. Kuliah di London School serta mengambil kuliah Tata Boga di sebuah universitas di Jakarta.

Yos mengakui dia mau menjadi manajer Iwan Fals karena dia sudah faham betul bagaimana sosok Iwan Fals itu. “Paling tidak kami punya mimpi dan cita-cita yang sama sejak masa pacaran, kawin, punya anak, kehilangan anak dan terus sampai sekarang. Landasan saya dan dia sama. Makanya saya berani memegang dia. Saya jadi bisa membagi porsi Iwan Fals antara menjadi suami, ayah, dan kapan dia harus menyanyi” kata Yos tentang alasaan akhirnya Iwan Fals Management dipegang olehnya. Alasan cemburu juga menjadi alasan pertama Yos harus menjadi manajer Iwan Fals. “Tapi itu alasan dulu, sekarang sih sudah saling percaya ya.”

Pongky dari Jikustik di album terbaru Iwan Fals, 50:50 ikut memberikan lagu berjudul “Tak Pernah Terbayangkan” yang di aransemen oleh Bagoes AA. Lagu yang ditulis Pongky ini terinspirasi dari kisah hidup Iwan Fals yang selalu ditemani sang istri, dalam kondisi apapun. “Tulis besar-besar tentang hal ini, saya mendedikasikan lagu tersebut untuk mereka berdua. Itu lagu untuk mas Iwan yang beruntung mendapat pendamping hidup seperti mbak Yos,” kata Pongky. Album 50:50 tampil dengan warna pink dan biru tua. Warna yang sangat pop. “Itu warna kesukaan Rayya, hingga Iwan mau menjadikan nuansa kover albumnya dua warna itu,” jelas Yos tentang nuansa warna di kover album terbaru yang dibuat oleh Boedi Soesatio. Orang dibalik pembuat kover-kover Iwan Fals di periode awal karirnya seperti album Sore Tugu Pancoran, Ethiopia, Sumbang, dan 1910.

Iwan Fals teman diskusi yang menyenangkan. Siang itu kami lebih melakukan diskusi daripada interview. Selain hobi melukis dan bermusik Iwan sangat menyukai diskusi. Adalah dikusi Reboan yang tiap malam Rabu diadakan di Leuwinanggung dengan berbagai pihak –dari mentri, dosen, pakar, artis, orang biasa, seniman- membuat Iwan suka melakukan diskusi panjang lebar tantang banyak hal. Diskusi dengan siapa saja membuat Iwan mendapat banyak masukan ide untuk lagu-lagunya. Beberapa kali fotografer Drigo L. Tobing yang kebetulan satu almamater dengan Iwan Fals dan Yos di IKJ ikut bertanya. Iwan Fals ternyata pribadi yang penuh rasa optimis. Rasa keheningan dan kehilangan telah lenyap dari pikirannya.

Rasa optimisme Iwan Fals tidak berubah. Sejak dia merilis album Sarjana Muda tahun 1981 lampau lewat lagu. “Bangunlah Putra Putri Pertiwi.” Iwan sudah menyuarakan rasa optimisme. “Terbanglah Garudaku. Kibaskan kutu-kutu disayapmu. Berkibarlah benderaku. Singkirkanlah Benalu yang melekat di tanganmu. Jangan ragu dan jangan malu. Tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu.” Iwan Fals banyak memberikan wacana tentang kondisi bangsa ini jauh ke depan. Salah satunya lewat lagu “Negara” di album 50:50. Berikut adalah petikan hasil diskusi dengan penguasa Leuwinanggung tentang banyak hal.


I. ANTARA JEDDAH, BANDUNG, DAN JAKARTA

Masa kecil seorang Iwan fals seperti apa ya?

Saya ke Bandung tahun 1975 atau tepatnya tahun berapa saya lupa. Ada kakak saya disana dua orang. Saya kost waktu itu. Saat itu sekolah di SMP 5. Sempat ke Jakarta dulu, sekolah. Saya ngaco sekolahnya. Terus ke Bandung lagi, kemudian rekaman kelompok Amburadul. Tapi kalau nggak salah saya ke Jeddah dulu sebelum ke Bandung. Ada keluarga sepupu ibu yang mengajar di kedutaan Arab. Kebetulan beliau belum punya anak. Saya diajak kesana. Nggak betah sekolah cuma berisi 3 orang di KBRI. Terus pulang ke Bandung. Apa ke Jogja ya? Sempat ke Jogja. Sendiri saat itu. Masih kecil. Kost saya waktu itu. Terus Ke Bandung lagi yang menjadi inspirasi besar saya.



Tapi saat di Jeddah itu saya juga diajari main gitar dengan seorang Pramugari yang bisa menyanyikan dan memainkan lagu-lagu Bob Dylan. Tumbuh kreatif saya di Bandung, saat itu semua orang sedang suka sama the Rolling Stones. Saya nggak bisa. Saya bikin lagu saja sendiri. Gabung dengan lagu-lagu humor. Ngaco saya waktu itu. Mainan lagu-lagu Bob Dylan digabung lagu The Rolling Stones atau lagu Sunda. Pokoknya orang tertawa. Tepuk tangan. Senang. Pulang. Hahaha. Saya sering main di acara kawinan.

Dasar awal karir musik Anda itu country ya?

Itu orang yang bilang. Karena saya dulu pernah menang di festival musik country. Saya aslinya suka musik bluegrass country. Saya suka ketukannya. Ritmis dan penuh semangat gitu. Lagu buruh-buruh kereta api. Semangatnya yang saya suka. Kan capek tuh sehabis nambang, terus mabuk, main musik, Itu yang saya suka dari bluegrass country. Saat itu saya memang suka musik seperti itu.

Kalau nama Iwan Fals sendiri asalnya dari mana sebenarnya?

Ada dulu teman yang buka bengkel motor. Engkus namanya. Dia jadi manajer-manajeran saya gitu. Kalau ada yang datang ke Bengkelnya dia suka nguping, dimana ada yang kawinan. ‘Oh ini di Pagarsih ada yang kawinan.’ Terus dia ngomong ke saya. Kita main yuk. Saya suka bawain lagu-lagu kocak dan becanda yang dirusak-rusakin. Dia bilang, “Ahh, iyeu budak fales oge yieh…” (Red: anak ini fales juga nih ternyata) Dari sejak itu dipakai nama Iwan Fals terus. Terus dia yang promosin ‘Iwan Fals dari Dago’. Tapi saya sempat juga tinggal di jalan Ternate, Bengawan, juga Dago Pojok. Saya waktu itu kost, sering pindah.

Engkus masih hidup?

Masih, dia kemarin malah sempat mampir kesini. Dia sopir truk. Dia sudah tua juga. Tapi saya mau nambahin soal Fals tadi. Dia memang yang mencetuskan nama itu. Tapi saya setuju karena nama itu melindungi saya. Kan saya ingin tampil bagus nggak ingin jelek. Kalau mau nama Iwan Bagus sementara saya jelek ya gimana? Makanya saya pakai Fals kalau ternyata saya fales ya saya tenang, karena memang namanya Fals. Jadi kalau salah atau fales-fales dikit ya maklum. Berangkatnya dari situ hahaha.

Karena saya nggak yakin waktu itu dengan diri saya sendiri. Di gitar saya waktu itu Yamaha ditempelin pake lakban. Waktu itu masih FALES. Belum FALS. Jadi pernah juga pakai nama PALES juga hahaha. Saya males ngikutin gimana terus sampai Musica ngusulin nama FALS. Sampai saat ini saya masih ada keinginan untuk memakai nama FALES juga. Atau air terjun jadi, FALLS. Atau ada keinginan PALSU. Wah sudah lah saya nggak tahu. Yang penting bisa bikin lagu…

Sampai album Sarjana Muda direkam di Musica itu mereka yang nawarin atau Anda yang membawa lagu ke Musica?

Waktu itu saya ikut festival music country di Trisakti. Saat itu ada orang Musica melihat. Namanya siapa yah? Kalau nggak salah Kiki. Dia yang menghubungi saya. Dia yang ngajak saya rekaman. Itu setelah album humor dan album Perjalanan. Album Sarjana Muda dan Opini itu satu kontrak. Musiknya yang membantu Willy Soemantri. Saya tahu Willy Soemantri sebelumnya dia yang bikin musiknya Franky Sahilatua. Dia yang ngebentuk saya ke country. Dulu saya ke bluegrass country.

Kalau terus bisa bermain musik dengan Ian Antono?

Iya saya kenal dia pas Galang lahir. Ada yang bilang ada pemain gitar top dari God Bless nih. Saya pingin dibikinin lagu sama dia. Saat itu God Bless sedang vakum, dia saat itu sempat kecewa bermusik. Terus saya datang ke rumahnya. Kebetulan saya suka God Bless juga. Dia itu kan selektif kalau bikin lagu untuk penyanyi. Kebetulan dia mau bikin lagu, Galang. Terus Sumbang. Cuma waktu itu lagu Galang nggak dimasukan. Masih masuk di album bersama Willy Soemantri. Baru kemudian di album Sumbang dan Ehiopia lanjut ke 1910 sama Ian Antono terus.

Dekat dengan Ian Antono karena Anda ingin fasih memainkan musik rock?

Saya lupa. Tapi mungkin saya memang waktu itu pingin mainkan rock. Kan penyanyi rock itu gagah ya? Kalau rock bisa tampil gagah di panggung sambil telanjang dada. Saya masih ada posternya. Ada harapan saya bisa lebih ekspresif dengan rock.

Soal hobi olah raga karate mulai kapan sebenarnya Anda tekuni?

Saya main yudo sebenarnya. Tapi saya main musik dulu. Lama saya nggak latihan. Terus sempat keluarga terancam saya mulai belajar karate. “Eh Yos, pas di Buncit itu tahun berapa yah? (Tanya Iwan. Dijawab Yos ‘Tahun 1983’). Saat itu saya mulai kembali belajar karate.

Terancam oleh pemerintah karena lirik lagu yang Anda nyanyikan atau apa?

Terancam lingkungan. Sekitar rumah saya. Waktu itu kaca rumah saya dipecahin. Saya punya bayi kan waktu itu. Jadi buat jaga-jaga. Eh keterusan. Saat itu sempat ikut kejuaraan se DKI kelas bebas dapat juara III. Cuma sekarang saya sedang menyukai silat. Karena kalau silat kan bisa seperti tenaga dalam, rohani, pernafasan. Karate ada tapi susah yah.


II. KELUARGA

Hal paling lucu dari Rayya terakhir ini apa?

Oh, ini ada saat saya rekaman. Saya titipkan dia sama crew saya. Crew saya ngomongin saya rupanya. Iwan gini-gini. Terus dia nyeletuk, “Ini nih anak Iwan Fals.” Dia bangga sama bapaknya…Membela saya dia hahaha.

Rayya belum dibuatkan lagu?

Sudah. Sudah saya rekam juga. Cuma saya nunggu diijinkan dirilis tidak sama Rayya? Judul lagunya “Rayya Rambu Rabbani”. Saya nungu dia dulu mau nggak lagu tentang dia saya keluarkan. Sekarang belum bisa diajak ngobrol soal lagu dia hehehe.

Makin nyaman dengan manajemen dipegang istri sendiri?

Iya karena dia bisa menjadi teman tidur. Kadang sampai di tempat tidur juga ngobrol soal musik. Kadang kita debat ramai sampai tempat tidur. Saya mau konser dia yang melarang. Hampir 24 jam isinya teror terus. Saya sering mengalah karena banyak tim yang terlibat kan? Tapi kalau crew sudah mulai bilang, “mas ayo main saya sudah nggak punya duit nih”, nah itu baru saya semangat. Kalau dihitung setiap pertunjukan akan memberi nafkah banyak orang. Karena yang terlibat di tur dan konser kan banyak. Dia cukup sukses menata saya.

Dulu kenal dengan istri di IKJ?

Waktu itu saya sempat ngambil kuliah jurusan Seni Rupa juga di IKJ (namanya saat itu masih LPKJ). Saya kuliah di LPKJ dalam rangka mengambil dia dari sarang penyamun. Saya kuliah dua kali saat itu. Pas sudah berhasil mendapatkan dia ya sudah, saya keluar nggak sampai lulus. Misi sudah tercapai hahaha.


III. KARIR DAN TEKNOLOGI

Melihat trend di industri musik sekarang ini bisnis digital sedang marak. Anda melihat hal ini sebagai pertanda apa?

Yah, itu kenyataan masa depan. Dua atau tiga tahun lagi akan menjadi sesuatu. Saya harus ikutin. Teknologi itu akan jalan terus. Orang hidup di jalan itu berapa jam coba? Mereka tidak akan bisa membawa semua alat. Dia tidak mungkin bawa telepon, bawa audio tape. Dia harus bawa alat kecil yang bisa buat dengar lagu, ngetik, buat telepon. Itu kenyataan. Nah im:port itu salah satu kita bisa dengar lagu disitu. Kalau Musica kan masih jual CD dan kaset gitu. Tapi pasti nanti akan mengarah kesana.

Mengikuti terus update teknologi?

Sempat saya setahun lalu. Keranjingan. Tapi lama kelamaan bosan juga. Sadar bahwa itu bukan bidang saya. Waktu saya kemakan komputer-komputer gitu. Waktu saya terbuang. Saya mending kembali ke asal. Kembali ke kayu.

Saya sempat melihat ada MySpace Iwan Fals ada di website. Siapa yang membuatnya?

Apa tuh MySpace?

Seperti website pribadi tapi lebih interaktif. Itu manajemen yang bikin atau fans yang bikin?

“Yos, website kapan mau bikin (Iwan bertanya pada istrinya). Rencananya mau barengan sama album rilis. Kalau MySpace itu mungkin dari fans. Kalau website pribadi nanti kita akan resmikan bersama album. Paling tidak itu mendekati kebenaran lah yang kita buat…


Sempat ada Iwan fals.com, itu dari fans?

Iya, itu kalau nggak salah anak ITB. Anak Bandung.

Anda termasuk yang rajin mendokumentasikan karya?

Saya merekam suka. Tapi ngumpulin itu yang saya suka jorok. Sekarang dibantu oleh tim. Ada sekitar 20 orang. Ada yang dokumentasi, foto, gambar, lukisan, suara, rekaman. Catatan-catatan. Sekarang mulai terkumpul. Dulu saya buang-buang saja. Sekarang mulai dikumpulkan baju, gitar, ya album-album yang bercecer.

Ada rencana membuat boxset berisi album-album saat di Musica atau malah semua album Anda secara retrospektif?

Kemarin Musica mau bikin begitu dari tahun 1980 dijadikan satu terus dijual. Saya sama Chrisye mau dibuat seperti itu. Nggak tahu apakah akan gabung dengan album saya saat selain di Musica seperti di Airo, Harpa, Prosound yang album Hijau itu.

Oya, album Hijau. Itu salah satu album favorit saya. Itu benar direkam semua secara live?

Iya. Tapi ada dua yang agak goyang. Ari Ayunir. Pas semua live dia bilang, ‘aku dubbing deh’. Sama pemain kendang. Tapi secara keseluruhan ya live. Kalau album Belum ada Judul itu live. Saya dan gitar saja. Kalau gak salah semua lagu di album itu direkam selama 6 jam. Kalau Manusia ½ Dewa walau cuma pake gitar saja tapi butuh sekitar 2 bulan.


IV. DUNIA KRITIK DAN PANGGUNG PERTUNJUKAN

Waktu itu sempat ada rasa curiga saat Setiwan Djody mengajak membuat proyek Swami dan Kantata Takwa dan mengajak Anda? Karena dia kan dekat dengan lingkungan Cendana?

Wah saya nggak tahu. Saya nggak punya pikiran sejauh itu. Saya juga nggak bisa apa-apa juga ya waktu itu. Karena dia masih sepupu saya.

Anda masih saudara dengan Setiawan Djody?

Iya, dari bapak. Kalau pekerjaan saya selama ini dengan Mas Djody mulai kenal dengan dia gara-gara album Mata Dewa. Kan Airo dari Sofyan Ali yang bikin. Saya nggak tahu kalau dia itu masih sepupu saya. Saya tahunya Setiawan Djody saja. Nah pas masuk di Kantata Takwa baru ketahuan. Saya ada sepupu laki-laki suka ke rumah mas Djody. Lho ternyata kita itu masih ada hubungan saudara. Bapak saya sama bapak mas Djody itu kenal. Ini nggak ada hubungan dengan ekspresi ya. Nggak tahu kalau mas Djody punya agenda politik dibaliknya. Yah wajar saja karena dia suka dakwah politik juga.

Waktu itu Setiawan Djody dekat dengan istana. Apakah dengan dia masuk ke dunia Iwan Fals itu tujuannya untuk meredam Anda?

Oh mungkin. Tapi kan dia selalu ngomong. “Sebelum orang ngomong apa-apa soal Soeharto saya sudah menyanyian “Bongkar”. Saya sudah menyanyikan “Bento”.” Mas Djody selalu mengutip itu kan? Apakah itu rekayasa mas Djody sendiri atau bukan saya tidak tahu. Jika itu rekayasa, itu hak mas Djody juga berteman dengan saya.

Tapi sebenarnya lagu “Bento” dan “Bongkar” itu bukan karena Soeharto. Bongkar itu kan tentang penindasan. Bento juga begitu. Saya bisa jadi Bento. Setiawan Djody bisa jadi Bento. Hanya karena waktu itu di plintir oleh siapa saya nggak tahu. Kan menarik waktu itu Bento muncul singkatan-singkatan di media. Benteng Soeharto. Benci Soeharto. Buat jualan media itu bagus. Saya sempat bangga juga soal itu. Kan ditulis oleh Koran-koran hahaha.

Sempat di datangi sama intel waktu itu?

Sempat di Lampung. Waktu itu sama Swami. Tapi malah dibela sama…siapa ya? Kalau nggak salah Hendropriyono. Dia yang membolehkan kami waktu itu main juga pada akhirnya.

Kalau soal peristiwa lagu mbak Tini?

Itu saya sendirian saat itu tahun 1984. Waktu itu di Pekanbaru. Saya dianggap menghina. Soeharto dan Tien Soeharto. Karena saya bikin lagu nama tokohnya mbak Tini dan Pak Soeharto. Soeharto itu sopir truk, kalau mbak Tini itu PSK yang insaf lantas buka warung jual kopi. Mereka berdua kawin. Tapi Soeharto yang diputusin kerja lantas jadi penjahat dan nggak pulang lagi. Entah mati atau kawin lagi. Mbak Tini nggak tahan terus jadi PSK lagi. Itu cerita dalam lagu saya.

Tapi sebenarnya lirik lagu itu menjurus kearah situ nggak (Tien Soeharto dan Soeharto)?

Nah ini pertanyaan sama dengan orang yang melakukan interogasi ke saya waktu itu. Saya jawab mungkin iya. Karena mendominasi kan tiap hari ada berita Soeharto. Tapi nama Soeharto kan bukan presiden saja. Bisa tukang bakso. Mungkin mbak Tini itu perwujudan dari ibu saya karena gemuk. Yang terekam dibawah sadar. Karena figurnya saya tangkap seperti itu. Mungkin Karena tentara-tentara itu ingin cari muka terus menangkap saya. Saya menghina atau apa. Saya nggak tahu. Konser hari kedua akhirnya nggak jadi. Dua minggu saya ditahan disana. Tapi karena terbukti tidak salah ya dilepas lagi. Malah saya sempat mendapat marga, Siahaan kalau nggak salah karena nggak terbukti.

Kasus ini kemudian diteruskan di Laksusda. Nggak tahu masih ada apa nggak tuh Laksusda. Kurang lebih 2 bulan bolak balik ngurus kasus itu. Saya ketakutan juga waktu itu. Saya juga bingung. Saya sudah sering mainkan lagu itu di Jakarta aman-aman saja. Eh di daerah malah kena. Yah, mungkin mereka mau cari muka. Tapi saya takut juga waktu itu. Karena di periksa bareng penyelundup, pemalsu uang, dan penjahat lain. Tapi karena nggak punya pikiran apa-apa dan nggak tujuan menghina ya dilepas.

Tapi mungkin juga ada benarnya saat itu menyindir juga ya. Menyindir karena terinspirasi. Saat itu saya juga diperiksa karena membuat lagu soal anak mentri penerangan yang terlibat kasus penembakan. Ada pengadilan sandiwara kalau nggak salah. Juga dengan lagu “Pola Sederhana”. Orang waktu itu kan harus mengencangkan ikat pinggang demi kepentingan negara. Harus hidup sengsara demi negara. Harga nggak boleh naik. Harga turun semua saat Sudomo ke pasar dengan wartawan. Tapi begitu dia pergi harga naik lagi. Saya terus bikin lagu itu. “Pola Sederhana”. Jadi tiga lagu itu yang dibahas saat pemeriksaan. “Mbak Tini”, “Pola Sederhana”, sama lagu tentang penembakan yang dilakukan anak menteri. Saya lupa judulnya. Saya nggak tertarik juga masukin di album. Yah kayak situ baca tulisan jaman dahulu. Pasti akan bertanya kok gini…hehehe

Soal pelarangan tur 100 kota itu ada fakta terbaru sampai saat ini?

Yang bisa membuktikan pengadilan ya. Saya coba meraba saja. Bisa salah juga ya. Dulu kan orang sangat mudah jual beli apapun. Persaingan industri antar rokok. Saya nggak sebutin namanya. Bisa saling beli surat ijin. Dan itu masuk akal, saat saya dilarang di Palembang satu hari kemudian Camelia Malik datang dengan bendera rokok yang beda. Padahal alasan saya waktu itu dilarang karena ada pembrontak yang kabur nanti takut datang kalau saya konser. Nah pas Camelia Malik malah diperbolehkan. Dia malah bikin pesta rakyat gitu. Lebih ramai. Saya sedih, yah terus saya pulang…

Itu dari industri ya. Kalau dari politik waktu itu Soeharto kan kuat. Bisa jadi dapat info yang salah soal saya. Terus dilarang. Yah bisa saja dia yang punya kekuatan. Saya dianggap tukang kritik yang bisa mempengaruhi rakyat.

Padahal Setiawan Djody sudah ikut ya?

Belum, waktu itu dia cuma main. Airo masih punya Sofyan Ali. Jadi dia juga nggak begitu terlibat. Nggak tahu ya dari dua analisa itu mana yang benar. Dan masih misterius juga sampai saat itu. Tapi ya ada hikmahnya, kalau saya nggak dilarang waktu itu mungkin kita tidak bisa ketemu sekarang. Saya baru sadar. Musik itu bukan main-main. Orang bisa jual apapun untuk nonton konser. Sekarang bisa jadi persaingan perusahaan besar.

Itu makin membuat Anda kemudian yakin bahwa sponsor tidak boleh ada dalam latar panggung konser Anda?

Saya yakin dengan langkah saya. Kalau mau ada sponsor ya diluar panggung saya. Panggung itu tempat sembahyang saya. Tempat saya melakukan ekspresi. Kalau mau sponsor yang menutup stadion nggak apa-apa. Tapi kalau misinya kemanusiaan dan keagamaan atau kerukunan, saya nggak masalah kalau ada nama dan logo. Seperti saya kemarin main di Manado. Saya dikasih topi ada tulisan ‘Bukit Kasih’, ternyata disitu nama tempat ibadah di daerah Manado. Nggak tahu ya itu dagang dakwah atau apa? Artinya dia kan jadi karyawan Allah ya hahaha. Kalau dengan produk seperti Djie Sam Soe, Djarum, Marlboro, atau Coca Cola saya tidak mau logo mereka ada di belakang panggung konser.

Ada rencana Swami, Dalbo, atau Kantata Takwa untuk reuni?

Kalau Swami nggak. Kalau Dalbo juga nggak mungkin, karena istri saya nggak suka dengan Dalbo. Nama band kok anak Genderuwo hahaha. Nggak tahu kalau Kantata Takwa ya.


V. KESEIMBANGAN

Konsep dasar album 50:50 itu untuk menjadi penyeimbang. Kalau boleh saya pakai bahasa seperti ini, untuk menampung karya Iwan Fals yang idealis dan yang komersil?

Bisa dibilang seperti itu. Saya lebih berusaha untuk menghayati dan memahami pasar. Yah, saat itu Musica punya ide dan di situ bukan sebatas ide, tapi ada survey dari pasar. Dan dapatlah 5 lagu yang seperti Musica inginkan. Tapi saya juga mulai jenuh dengan yang begitu-begitu. Saya mencoba paksakan. Karena saya punya pendapat sesuatu yang tidak baik belum tentu tidak baik bagi kita. Saya coba pahami itu.

Tapi dari awal saya juga sudah memberi masukan, bahwa lagu-lagu saya juga harus masuk. Diambil 6 lagu. Tapi dari isi lagu, tentang porsi cinta, itu yang ngurus Musica. Saya juga ada ide-ide, dan saya coba masukan perenungan soal Munir, negara, dan tentang keadaan orang makan areng itu tidak bisa disepelekan.


Lagu tentang Munir itu di lagu mana ya?

Lagu “Pulanglah”. Jadi inspirasinya dari almarhum Munir. Saya sedang di Sukabumi saat mendengar radio, dapat berita meninggalnya dia. Saat itu saya sedang di persawahan. Saya termasuk orang dan hormat pada Munir. Dia orang yang jernih dan lantang bersuara.

Sebelumnya sempat kenal langsung dengan almarhum Munir?

Belum pernah. Tapi saya dengar dari mbak Suci (istri Munir) katanya Munir dan teman-teman suka mendengarkan lagu-lagu saya. Yah, kita beda jauh sih ya. Dia di politik saya di musik. Tapi itu kan tidak menutup rasa hormat saya. Lepas dari salah atau benar, artinya bahwa dalam kondisi seperti ini masih ada orang yang bicara untuk orang lain dan memberikan waktunya bagi orang lain. Itu kan cukup langka. Karena sekitar lingkungan kita tidak peduli dengan sesama. Semuanya sekitar kita masih tentang ekonomi. Duit dan duit terus. Ada Munir masuk. Kemudian yah dia dimunirkan itu.

Sempat beberapa kali pas jalan sama Slank untuk cari dana Tsunami saya sempat bawakan lagu itu dan akhirnya masuk dalam album ini. Karena ini penting bagi saya. Bagaimana seorang Munir tidak mendapat kejelasan hukum yang jelas. Nggak jelas. Kan satu pesawat Garuda. Yang masuk jelas. Kan tinggal disisir. Tinggal ditanya. Masak teknologi nggak bisa bantu. Pertanyaan anak kecil seperti anak SMP juga simple. Sampai sekarang belum selesai. Gimana? Mungkin kalau soal meninggalnya ya sudah takdir. Tapi bahwa proses hukum itu yang harus jelas. Supaya saya yakin hidup di Indonesia karena saya juga punya anak dan istri. Gimana kalau semua serba nggak jelas. Saya lihat Munir dari situ. Karena menyangkut harkat dasar hidup orang. Kalau ini nggak beres? Wah, Bagaimana nasib orang yang nggak punya nama. Terus juga pikiran-pikiran saya tentang negara ini.

Saya lihat negara ini dari atas. Negara ini kaya. Saya penasaran, negara ini kan makmur. Di diskusi Reboaan saya tanya beberapa ahli soal kondisi negara. Saya bertanya sesungguhnya bisa nggak kita ini kesehatan dan pendidikan gratis? Mereka bilang, ‘Bisa!’. Saya Tanya lagi, benar bisa? ‘Bisa kata mereka.’ Ya sudah saya bikin lagu tentang negara. Isinya tentang jaminan keamanan, bersahabat tentang alam, harapan tentang pendidikan. Gimana mau maju kalau kita masih bodoh. Kalau kita nggak sehat.

Kita semunya ada. Kita nggak seperti negeri salju atau negeri panas. Ini perasaan saya. Nggak harus politisi untuk bicara seperti ini. Ini yang saya utarakan ke Musica. Saya punya pikiran-pikiran yang harus saya suarakan. Kalau nggak saya akan dosa. Saya juga perlu cinta tapi saya juga butuh pemikiran seperti ini. Nah, kebetulan Musica setuju dengan ide saya itu. Saya menghormati benar sama Musica. Karena mereka yang memiliki jaringan promosi.

Sempat takut dengan misi album yang berisi kritik di album 50:50 akan tidak tersampaikan karena orang lebih menyukai lagu-lagu cinta di album itu?

Saya nggak takut sih ya. Kecuali sama Allah ya. Ya ketakutan saya malah omongan itu berbalik ke saya. Saya tidak bisa mewujudkan yang saya omongkan. Seperti yang terjadi di wawancara ini. Sampeyan tulis. Lalu saya ngomong sembarangan. Ya, paling susah merealisasikan. Yang lain saya nggak ada ketakutan. Nah, bahkan saya malah berterimakasih karena digabung dengan lagu-lagu cinta dan jualan. Yang orang ingin dengar lagu cinta akan mendapatkan lagu-lagu dengan tema sosial juga.

Sebenarnya ini cerminan dari keinginan saya. Cuma saya belum bisa mewujudkan lagu-lagu cinta saya. Tidak sebagus Opick bikin, Digo, atau mungkin Pongky dan yang lain. Kekinian. Saya sudah mulai hilang bunyi-bunyi cinta. Syair pendek tapi yang benar-benar tulus. Saya kesulitan membuat lagu seperti itu. Tapi saya butuh lagu-lagu tersebut. Makanya Musica memilihkan lagu-lagu cinta. Saya ada lagu cinta satu, tapi ya itu. Lagu cinta saya ini sudah saya buat 15 tahun lalu. Judulnya “KaSaCiMa.”

Oya, KaSaCiMa itu apa ada artinya?

“KaSaCiMa” itu artinya Kasihku, Sayangku, Cintaku, Manisku hahaha. Sebenarnya itu belum ada judul. Nah pas saat itu saya tetap diminta bikin lagu cinta. Ya sudah saya kasih judul pas rekaman kemarin disingkat jadi “KaSaCiMa” hahaha. Komplit banget kan isinya.

Kalau lagu-lagu dari pencipta lagu lain di album 50:50, Anda ikut menyeleksi dan melakukan revisi?

Ada, beberapa seperti lagunya Digo yang liriknya saya minta rubah sedikit. Juga lagu Opick. Tapi tidak mendasar. Lebih pada saya supaya nyanyi saya enak.

Kalau lagu-lagu yang dipilih Musica Anda ikut menyeleksi penciptanya? Apa melihat ke lagu?

Iya lebih ke lagu. Ini di seleksi oleh 3 pihak. Ada saya, manajemen, dan Musica. Lagu saya 300-an yang dipilih enam. Lagu dari pencipta luar lebih dari 20-an. Yang kepilih ya enam itu. Jadi total ada sekitar 350-an lagu untuk menyiapkan album ini. Yang terpilih ya 12 lagu ini di album 50:50.

Ada lagu yang Anda suka secara pribadi tapi tidak bisa masuk?

Banyak. Ada lagunya Dewi Pakis, ada lagunya Bagoes AA yang kasih saya 5 lagu. Bagus-bagus. Lagu tentang musafir. Hubungan tentang anak. Pemikiran mencari Tuhan. Tapi ya itu. Ada yang bilang terlalu jaman dulu hehehe. Tapi saya hormati juga dengan lagu-lagu mereka. Saya akan cari jalan keluar. Yah, seperti sekarang jaman beli lagu di Im:port kayak gitu. Mungkin akan saya pakai cara itu buat lagu lain yang tidak tertampung.



VI. OPTIMISME & NEGARA IMPOSIBLE

Sekarang kelihatannya beberapa orang Indonesia optimis ya. Kemarin pada bikin Petisi 2030 tentang visi dan misi baru. Kelompok pengusaha datang ke SBY bahwa tahun 2030 negara kita akan masuk 5 besar negara maju. Ada komentar soal itu?

Oh gitu? Wah kalau saya memang optimis. Saya optimis karena saya melihat dari langit saat saya tur. Kaya negara kita ini. Sekarang soal ngomong keterbukaan, karena saya pikir yang 190 juta orang kebanyakan jauh lebih siap dari 10 juta orang yang sibuk ngurus duit mereka sendiri. Padahal menghormati sesama itu penting. Tapi ya nggak tahu kita seperti dihalangi sesuatu.

Kalau memang masalahnya tidak ada solusi, ya biar alam yang berbicara. Kan nanti mereka akan mati. Diganti oleh yang muda. Dan cara berfikir kita kan beda. Kalau dulu suka memakai kata bersayap. Kalau sekarang kan apa adanya. Siapa yang bisa bertahan dengan itu semua. Ok masih ada yang tahan. Tapi apa tahan jika orang mulai banyak yang mengemis di rumah mereka atau mobil mereka. Apalagi kalau mereka muslim, ada hak yang akan mereka minta. Apa akan terjadi seperti ini? Jadi ya tidak ada cara lain. Saya yakin negara kita bisa besar kok. Tetapi ya jangan cuekin kritik. Kalau kritik nggak dijawab ya bagaimana bisa sampai ke 2030? Saya sepakat, kita bisa kalau perlu nomor satu. Kenapa saya bilang nomor satu karena posisi kita enak. Udara enak dan bersih. Secara dasar dan kultur kita di khatulistiwa ini bisa kok.

Apa karena bangsa kita itu terkenal malas lantas keenakan hidup santai?

Nah itu dia, karena yang jadi persoalan. Kalau males ya sudah. Tinggal kita mau rajin apa tidak. Alam sudah mendukung. Asal mau kerja saja…

Tidak ingin terlibat secara langsung untuk mengatasi hal-hal krusial seperti itu lewat lembaga tertentu atau dengan OI?

Tidak. Di seni suara saya lebih banyak berbuat daripada saya masuk di partai politik. Seperti kemarin saya nyanyi tinggal teriak Indonesia!!! Bebas berbicara. Kalau di politik wah banyak upacara-upacara yang nggak jelas. Saya juga tidak memahami persoalan politik. Saya kurang kejam untuk di politik.

Kalau tiba-tiba OI di tahun 2008 sepakat mengsung Iwan Fals sebagai Presiden Indonesia gimana?

Wah nggak lah… Saya menghormati Eep Saefullah Fatah, Ariel (Haryanto), Andreas (Harsono), Arief Budiman. Masih banyak orang yang mengerti. Saya cuma bagian kecil dari itu. Saya cuma menyemangati saja lewat musik. Masih ada orang seperti Faisal Basri, ada lagi (Ichsanuddin) Noorsy. Lalu ada Budiman Sudjatmiko yang memang terjun ke politik. Macam-macam banyak orang pandai. Kalau ada kesempatan pikiran-pikiran mereka bisa dipublikasikan dan orang nggak terlalu curiga dahulu dengan mereka pasti bagus. Tapi kalau dari awal nggak percaya? Ya susah…

Kalau kemudian politik berubah. Dan orang-orang tersebut berkumpul untuk membangun negara ini. Anda bersedia diajak bergabung?

Sebagai teman saya mau. Tapi kalau terjun ke politik dan ikut kampanye saya nggak mau. Yah, saya di musik sajalah. Nggak usah dengan mereka, dengan pemerintahan saya juga baik. Sejauh mereka juga menghargai saya.

Bicara tentang penghargaan. Bajakan makin merajalela. Tidak ada ketegasan, sebagai seniman yang karyanya banyak dibajak ada komentar?

Yah saya juga marah. Tapi kadang saya nggak melihat dari segi ekonomi. Tapi ya itu tadi. Saya bayar pajak. Padahal ada polisi juga. Itu tadi karena saya kurang kejam tadi. Apa ya namanya. Bisa dibilang egois kali ya. Tapi daripada saya ngurusin hal-hal seperti itu waktu saya bikin lagu jadi habis. Padahal urgensi dan tugas utama saya ya bikin lagu. Nyanyi. Bikin lagu. Mengerti benar persoalan lagu saya. Kan banyak hal yang menarik selain bajakan. Kalau ditanya kenapa tidak ikut campur? Saya bilang dunia saya kan besar. Ada ekonominya, ada bagian ininya, ada itunya. Tugas saya penciptaan. Tapi yah, saya kesel bener dengan bajakan. Untungnya saya masih bisa main di tur. Masih bisa dapat uang dari konser. Yah ada tambahan lain. Dan lebih besar dari konser pendapatan daripada di album. Album dibajak itu perbandingannya satu banding lima belas.

Kalau pemerintah yang seharusnya menindak lanjuti pembajakan malah terkesan membiarkan hal tersebut berlangsung. Bagaimana sebaiknya yang harus pemerintah lakukan?

Yah itu di DPR juga ngomong gitu. “Masak rakyat nggak boleh beli yang murah.” Lho saya juga rakyat. Kalau membela rakyat yang itu dan mengorbankan rakyat yang lain. Yah jadi tetap saja, maling tetap maling. Sehebatnya Robin Hood walau untuk kebaikan ya tetap saja maling. Masalah mahal dan murah kan bisa diomongkan. Masalah hukum yang harus ditegakkan. Teknisnya saya nggak tahu.

Tapi bahwa kalau ada pertanyaan dasar, ‘Mau nggak karyanya dibajak?’ pertanyaanya yang mendasar kan itu. Mau nggak mereka? Paling cuma almarhum Harry Roesli yang membiarkan pembajak. ‘Silahkan bajak.’ Tapi saya meyakini dia itu kesel. Karena sudah menyerah dengan kondisi. Seperti kalau ada yang teriak, Babi lu…padahal maksudnya pujian. Yang mengerti kan hukum seharusnya mengatasi itu, kalau nggak ada ya diadakan. Tapi saya percaya. Walau transportasi hancur. Fasilitas umum kurang.

Habis kalau nggak mau percaya lagi gimana? Atau mau seperti John Lennon yang tidak ada negara. Atau mau pecah menjadi negara kecil-kecil. Tapi kalau itu untuk kebaikan ya kenapa tidak. Yah, buat wujudkan yang tahun 2030 tadi. Apalagi didorong oleh MDGS soal kemiskinan, Aids dan lain.

Apa perlu istilah kita semua kenyang dulu baru demokrasi?

Iya. Saya pernah dengar soal itu dari Sindikat Suryadi atau apa gitu soal itu. Soal kenyang dulu baru demokrasi. Saya tidak tahu namanya demokrasi atau apa? tapi persoalannya kita nggak boleh susah lagi. Saya nggak mengerti harus bagaimana caranya. Apa kita mau pakai Islam karena mayoritas atau apa. Yang penting orang bisa belajar benar, sehat, tidak saling mencaci, tidak saling membunuh. Ya memang bukan di surga, Tapi ya bisa jadi surga. Ya kita mau kita apakan hidup ini. Mau kita hancurin atau apa. Mati kan sudah pasti. Ngapain lagi coba?

Kalau soal sikap dan kinerja pemerintahan sekarang apa yang sedang terjadi?

Yah makan hati. Karena terlalu hati-hati hahaha. Tapi lumyan lho, berapa Gubernur yang ditahan. Terakhir kemarin dari Bulog. Lumayanlah. Paling tidak ada niatan. Presiden sendiri yang ngomong dia akan membrantas korupsi. Masalah dia bisa membuktikan apa tidak yang tanggung jawab dia per lima tahun nanti. Tapi masak sih, seorang jendral kok plin plan? Saya sendiri nggak tega melihatnya. Saya sendiri kan anak tentara. Jadi tahu soal kata-kata itu dipegang benar oleh bapak saya. Tapi mungkin sulit ya melawan mafia dan sifatnya politik. Saya memaklumi. Tapi persoalan kelaparan itu kenyataan. Lapindo kenapa tidak di dahulukan. Bayar saja dulu. Sekarang dibalikan, ‘Bisa nggak tidak ada kamar mandi.’ Lihat di TV mereka disumbang dengan makanan basi. Mungkin memang tidak langsung dibawah SBY tapi kan semua struktur dibawah dia. Jadi wajar banyak orang marahin SBY pada akhirnya.

Seniman kita kurang perhatian dengan kondisi sosial ya sekarang ini?

Masih kok. Perhatian juga, Slank bawain lagu “Lapindo”. Cuma nggak di ekspos. Sekarang lagi banyak musik rap, yang kalau diperhatikan liriknya menarik juga. Terus ada puisi jalanan. Masih ada yang menyuarakan…

Perbedaan mendasar cara menyuarakan protes jaman dahulu dan sekarang?

Oh iya pasti beda. Saya dulu penuh ketakutan jaman Soeharto. Takut pada diri sendiri nanti di apa-apain.

Tapi waktu jaman katakanlah tertidas itu jauh lebih kreatif?

Ahh nggak, kok sama saja. Sekarang malah lebih kreatif karena tidak ada larangan. Hanya memang jaman Soeharto dulu bentuk bunyi dan sastra itu seperti percikan-percikan begitu. Retorika atau runtutan bahasa itu mengena. Kalau sekarang kan bebas mengalir saja. Tapi pas saya lihat kok nggak berasa sekarang? Padahal sudah maksimal. Malah lebih terasa itu kalau ngomong soal kupu-kupu. Air dan embun. Atau ngomong tentang pertumbuhan bayi. Seorang tentara gendong bayinya dengan seragamnya. Itu lebih berasa. Saya pernah lihat kang Iwan Abdurraman nyanyi di Senayan, rasanya seperti diiris-iris. Di silet-silet gitu. Padahal dia orangnya kan keras. Yah, itulah perjalanan yah…

Sempat mengalami bosan karena selama ini mengajukan protes atau masukan soal kondisi sosial dan negara tapi tidak ditanggapi oleh pemerintah?

Ohh nggak, saya yakin lagu saya tidak akan dicuekin. Pasti akan direspon dengan serius atau malu-malu. Saya jelas kok bayar pajak. Main saya dimana gitu bisa dihitung. Kalau tidak diperhatikan ya bukan salah saya, itu urusan mereka. Tanggung jawab saya adalah melakukan perjalanan, mencatat yang saya rasakan. Kalau sakit yang teriak, kalau riang yang gembira. Main musik. Kalau nanti harus mendapat harmoni dan harus mendapat penjara, itu bagian dari perjalalan. Dan itu bukan istimewa. Saya cuma berusaha menempatkan diri siapa tahu bisa memberi semangat teman-teman yang masih marah-marah. Supaya tetap terus. Berani ngomong benar. Itu dakwah saya. Saya percaya dengan pendapat yang bisa menyelesaikan semua persoalan ini adalah cuma dakwah. Entah kyai dengan masjidnya. Pendeta dengan gereja. Orang harus diberitahu. Kalau di diamkan saja ya semua akan hancur.

Sementara ada kyai yang menjadi panutan malah kawin lagi ya?

Nah itu umpamanya. Tapi wah saya nggak tahu soal itu. Tapi saya setuju dakwah yang akan membereskan. Bayangkan jika anak kita tidak dikasih dakwah. Kalau di dilepas di hutan akan jadi anak srigala dia. Kalau bosan sih nggak yah. Pelarian saya dengan membaca buku dan main gitar. Saya memang tidak kaya tapi bisalah hidup. Kadang saya masih butuh tepuk tangan orang lain untuk mengukur kemampuan diri.

Mengukur kemampuan bahwa Iwan Fals masih dihargai?

Bukan itu. Ini usaha saya dalam kerangka mengisi waktu dalam menit ke menit. Jam ke jam. Pagi ketemu pagi lagi. Bagaimana saya masih bisa hidup. Seperti saya ngajarin Rayya kalau dia marah-marah saya minta dia ambil nafas panjang. Lumayan waktu 2 menit. Apalagi kemudian ditambah sama ibunya untuk melakukan dzikir jika marah-marah. Terus misalnya saya marah-marah bikin lagu. Habis itu capai. Selesai. Tidur. Alhamdulillah. Selamat hidup saya hari ini. Kalau lagi rajin enak, lima waktu bisa berdoa.

Rajin sholat lima waktu?
Yah kadang-kadang hahaha. Saya suka mempelajari banyak buku agama. Budha, Khong Hu Chu, Hindu. Dan banyak buku-buku lain.

Sedang membaca buku apa saat ini?
Saya sedang membaca buku tentang Panglima Armada Aceh. Laksamana Kemalahayati. Jadi komandan perang perempuan yang memimpin 100 kapal. Dia melawan portugis. Dia punya nama pasukan Inong Bale. Pasukan janda-janda terdiri dari janda para suami yang meninggal karena perang.

Pingin menuangkan dalam lagu?

Iya saya ingin menuangkan dalam lagu. Karena perempuan di jaman kita sekarang agak dinomor sekiankan. Padahal abad 15 perempuan kita di Aceh sudah menjadi Laksamana. Jauh sebelum Kartini. Beberapa tahun setelah Malahayati ada Al Amal, dia raja perempuan dari Aceh. Alasan awal saya karena kita mau main di Aceh, tahu saya cuma Tjut Nya’ Dien, dari situ saya banyak membaca referensi tentang Aceh. Saya tahu ada universitas Malahayati tapi saya nggak tahu ternyata itu nama pahlawan di Aceh. Sayang kalau cuma datang dan nggak membawa apa-apa ke Aceh. Jaman sekarang perempuan nggak boleh kerja. Lha jaman itu sudah ikut perang. Ya, nggak istimewa Megawati jadi presiden hehehe. Apalagi kalau kita lihat Fear Factor, perempuan banyak yang menang, laki-laki malah pada keok…

Ada ide menuangkan dan menjadikan isu feminisme dalam sebuah lagu atau album?

Wah saya belum tahu. Saya sedang membaca saja. Sebenarnya sih hubungan dengan dakwah ya sesekali. Tapi hubungan dengan kodrat beda. Kalau kita lihat anak-anak kecil tidak ketahuan laki atau perempuan. Nanti kalau sudah dewasa baru ketahuan. Coba kalau kita menykapinya wajar. Bedanya karena mereka dikondisikan…


VII. PENDIDIKAN ANAK BANGSA

Percaya dengan sistem pendidikan di Indonesia?
Saya harus percaya karena pakarnya ngomong bisa. Faisal Basri, Noorsy (Ichsanuddin) ngomong bisa. Orang pintar itu ngomong bisa. Saya harus percaya.

Kalau soal mutu?
Ya harus dengan mutu. Internet sudah banyak. Harusnya bisa.

Kitanya mungkin yang tidak siap menerima gelombang globalisasi itu?

Siap dong. Portugis masuk Aceh abad 15. Wali Songo masuk dari Persia. Artinya sudah biasa kita melakukan interaksi. Dulu VOC datang dan dagang kan? Terus dia datang lama-lama jadi penjajah. Interaksi dengan nyai–nyai lokal. Nggak aneh kita dengan globalisasi. Perlu belajar sejarah lagi kalau masih nggak percaya dengan globalisasi. Saya makin percaya dengan diri saya karena dalam darah saya ada darah Arab, Cina, Bali, Jawa, Sunda. Dalam istri saya ada darah Jerman, Belanda, dan Betawi. Bisa dibayangin anak saya ada berapa campuran coba? Juga dengan gerakan silat dan karate itu kan banyak percampuran. Juga dengan musik. Juga dengan orang-orang Dieng itu kan pelarian dari Majapahit. Lebih lama lagi orang Sangir kan?

Andreas Harsono dari Pantau mengenalkan istilah Indopahit sebagai satir atas kondisi negara kita. Anda menyetujuinya??

Kenyataanya memang begitu. Coba saja tanya sama mereka yang kena gusur. Pasti mereka akan bilang Super Pahit. Tapi kalau kita mau punya negara ya harus percaya bahwa kita bisa baik. Kalau perlu kita bisa menjadi nomor satu.

Kalau negara kita dengan sistem federal saja bagaimana?

Saya nggak tahu teknisnya gimana. Saya nggak tahu bagaimana pokoknya harus sejahtera. Entah itu lewat komunis atau liberal saya nggak tahu. Tapi kalau saya masih setuju dengan Pancasila. Apa jeleknya Ketuhanan, Kemanusiaan, Kemasyarakatan, Musyawarah, atau Keadilan. Apa jeleknya coba?

Atau kita harus komunis dulu terus baru demokrasi. Buktinya negara yang dahulu berbasiskan komunis sekarang bisa maju.

Saya nggak tahu. Harus tanya dulu ke ahli. Lho, tapi kalau ternyata komunis bisa membuat sejahtera? Kenapa tidak? Tapi kalau atheis saya nggak. Saya bertuhan. Saya masih percaya Tuhan. Tapi kalau cuma soal komunis saya nggak masalah. Silahkan saja kalau mau komunis dan liberal kalau itu membawa kesejahteraan. Tapi kalau saya di tanya pribadi saya masih percaya dengan Pancasila. Tinggal dijalankan saja. Ikuti saja dulu. Boro-boro bisa ikutin 5. Bisa satu saja sudah luar biasa. Harus dijalankan saja.

Mumpung SBY masih ada waktu. Jalankan serius pemerintahan. Jangan pura-pura. Masih ada waktu dua tahun. Silahkan bekerja. Sampai kapan kita akan gelisah coba? Buat saya yah kerja sajalah. Yang musik ya di musik. Yang kerja di pers ya kerja di pers. Tentara ya tentara. Saya mensyukuri dengan konser saya yang lancar. Jangan sampai di gangguin oleh suhu politik. Kalau cuma berangkat dari pikiran sederhana bahwa musik itu untuk hiburan saya yakin musik tidak akan membawa kericuhan. Saya percaya itu… [source : http://adibadib.multiply.com]

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Arsip Bulanan

Sejak Februari 2007

Web Site Hit Counters

falsmania sedang online