| Data Diri | Biografi | Diskografi | Info Acara | Berita |  

    | 

« Kembali ke Muka | Iwan Fals : Tokoh Luar Biasa » | Iwan Fals di PRJ, 12 Agustus 2007 » | Untukmu Negeri, Perjuangan Tak Kan Pernah Berakhir... » | Jika Iwan Fals Diberi Nilai » | Iwan Fals Buka Open House Setiap Selasa dan Jumat » | Iwan Fals Dirikan Tempat Pendidikan Al Quran di Ci... » | Iwan Fals Naik Motor Saat Tampil di Jakarta Fair 2... » | Hasil Polling : Musisi Favorit, Kolaborasi dengan ... » | Hasil Polling: Album Iwan Fals Favorit » | Surat orang rimba kepada gurunya »

Iwan Fals : Ia Tetap Berdiri Ketika yang Lain Merunduk

Pada tanah yang sama kita berdiri, pada air yang sama kita berjanji, karena darah yang sama jangan bertengkar, karena tulang yang sama usah berpencar, Indonesia...... Indonesia......
(Iwan Fals, Di Bawah Tiang Bendera)

[ARTIKEL] Lugas, khas, kadang keras menyengat, kadang lembut menyentuh, tak jarang pula ia bertutur dengan bercanda, tapi yang jelas semua lirik lagunya syarat dengan pesan arus bawah, keadilan, dan kedamaian. Itulah yang tertangkap pada lagu-lagu Iwan Fals. Sehingga terkesan Iwan lebih banyak mengkritisi keadaan bangsa dan kebijakan pemerintah daripada musisi lainnya. Lagu-lagu Iwan memang lebih menyuarakan ketidakadilan dan ketimpangan-ketimpangan sosial.

So, wajar aja kalau majalah TIME menobatkan Iwan Fals sebagai salah satu "Pahlawan Besar Asia". Dalam situs majalah TIME Asia tertulis "Iwan Fals Sings a Timeless Message of Justice for All". Di malajah TIME Asia edisi 29 April 2002, pelantun lagu Oemar Bakri ini disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar asia lainya, seperti novelis Pramudya Ananta Toer, aktor Jackie Chan, pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi, pendeta Tibet Karmapa Lama, Xanana Gusmao dll.

Munurut Jason Tedjasukmana, wartawan TIME Asia, Iwan Fals berbeda dengan boy band di belantara industri musik Indonesia. "Para boy band tidak mempersoalkan kediktatoran, sementara Fals sebaliknya. Fals tetap berdiri ketika yang lainya merunduk. Mereka pun (boy band kebanyakan) tidak mengangkat tema sensitif ke dalam lagu-lagu mereka, yang orang-orang lain juga takut melakukannya. Berbeda dengan Fals," katanya.

Dalam tulisannya, TIME juga menulis "Fals adalah duri bagi siapa pun yang menyalahgunakan kekuasaan mereka" dan "Menyanyi dengan suara hati", adalah kalimat-kalimat yang dalam bahasa Inggris dipasang di atas judul artikel tentang Iwan Fals. Selain itu, dalam artikel tersebut, Jason menceritakan betapa Fals punya banyak penggemar di mana-mana di Indonesia hingga sekarang.

Lirik dan model lagu Iwan Fals yang blak-blakan penuh sindirian, rupanya tak lepas dari liku-liku perlananan hidup Fals yang penuh perjuangan. Bahkan ketika namanya sudah dikenal orang pun, Iwan masih sering ngamen dan bahkan pernah jadi supir omprengan Pasar Minggu-Depok, pp.

Belajar Gitar, Ngamen, Hingga Rekaman
Iwan dilahirkan pada 3 September 1963 dengan nama Virgiawan Listianto sebagai anak kelima dari sembilan bersaudara dari pasangan Haryoso dan Lies. Perjalanan karir musik Iwan di dimulai sejak berusia 13 tahun. Saat itu dia masih sekolah di SMPN 5 Bandung. Dia mengenal gitar pertama kali melalui teman-teman nongkrongnya.

"Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi. Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku," katanya. Di SMP itu juga, pernah suatu ketika seorang guru menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum mahir, Iwan memberanikan diri karena ada cewek yang jago mainin gitar. "Gengsi dong!" Pikir Iwan waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar di vokal grup sekolahku. Dengan bekal kemampuan bermusik yang masih pas-pasan, Iwan mulai berani ngamen di seputar Kota Bandung.

Ketika SMP-nya belum selesai, Iwan sempat mengenyam pendidikan di sekolah KBRI, Jedah, Arab Saudi, selama delapan bulan. Tapi ia tak betah karena selalu rindu kampung. Akhiarnya, dia pergi ke Ka'bah dan berdoa agar ditunjukkan jalan untuk kembali. "Saya bilang waktu itu saya akan bersungguh-sungguh menjadi penyanyi yang tenar," akunya. Do'anya terkabul. Maka pulanglah Iwan sambil membawa gelar haji.
Kegandrungnya paga gitar terus berlanjut. Agar Iwan merasa diterima dalam pergaulan teman-temannya yang mahir main gitar dia memainkan lagu-lagunya sendiri. Dia membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor dan merusak lagu orang agar bisa menarik perhatian. Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, Iwan menyanyi.

Seiring dengan perjalanan waktu, lagu-lagu Iwan mulai terkenal, tidak hanya di Bandung tapi juga Jakarta. Banyak kaum muda masa itu yang menggandrungi dan memainkan lagu-lagunya. Berbekal itu, Iwan mulai berani menerjuni dunia rekaman. Saat masih sekolah di SMAK BPK Bandung ia pergi ke Jakarta. Bersama teman-temannya dari Bandung, yakni Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam kelompok Ambradul, Iwan melempar album. Namun penjualan album itu kurang memuaskan. Iwan pun sempat rekaman lagu-lagu humor bersama Pepeng (pembawa acara kuis Jari-jari di RCTI), Krisna, dan Nana Krip.

Setelah melakukan rekaman sekitar empat album, akhirnya Iwan rekaman di Musica Studio, merilis album Sarjana Muda. Melalui album ini, nama Iwan Fals sebagai penyanyi dan musisi mulai membahana. Lagu-lagunya dikenal memiliki karakter, tidak hanya musiknya tetapi juga lirik-liriknya yang lugas dan sarat dengan ungkapan sosial. Tak heran, hampir semua album solo perdananya populer di kalangan anak muda.

Iwan melempar album Oemar Bakri pada tahun 1981. Sejak itu album-album bernada kritisnya beredar di pasaran. Di Pekanbaru ia pernah ditahan selama seminggu. Lalu di Kramat V Jakarta, diinterograsi selama tiga bulan dan pernah ia dikenakan wajib lapor tiap hari.
Sejak saat itu Iwan sering bergabung dengan musisi-musisi ternama seperti, Ian Antono (gitaris Gob Bless), Sawung Jabo, Naniel, Totok Tewel, Yockie Soerjaprayogo, bahkan penyair kawawakan Rendra dan Setiawan Djodi yang tergabung dalam Kantata Takwa. Nama Iwan pun semakin melekat di ati penggemarnya.

Walau sudah terkenal Iwan tetap melanjutkan ngamen di jalanan. " Kalau aku ngamen aku selalu nyanyi dengan riang gembira, meski syairnya sedih. Prinsipku, orang sedih kan boleh saja bergembira. Soalnya, dulu kalau aku membawakan lagu-lagu sedih, teman-temanku pada kabur semua," katanya.

Berbekal kerja kerasnya, Iwan Fals kini telah menjadi penyanyi dan musisi yang berkarakter, kharismatik, sekaligus legendaris. Kehadirannya senantiasa dinanti para penggemar setianya. Ia kerap menyabet penghargaan, termasuk penghargaan penyanyi rekaman terbaik versi BASF 1995. Kini ia pun termasuk jajaran penyanyi termahal di Indonesia.

"Intinya aku senang menyanyi. Terus apa salahnya kalau dalam menyanyi itu ada manfaatnya buat kehidupanku. Sebab aku juga nggak mau jadi maling. Aku berharap dalam musik kehadiranku berarti. Syukur-syukur buat orang lain juga berarti," akunya. [source: hrb/segitiga.stikom.edu] ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

Arsip Bulanan

Sejak Februari 2007

Web Site Hit Counters

falsmania sedang online