| Data Diri | Biografi | Diskografi | Info Acara | Berita |  

    | 

« Kembali ke Muka | Iwan Fals: Pohon untuk Kehidupan » | Iwan Fals Sapa Bikers TVS Jawa Timur » | Coretan Sakit Hati Iwan Fals » | Iwan Fals : Masih banyak bayi yang tidak tahu bapa... » | Rahasia Langgeng Iwan Fals - Yos » | Iwan Fals di tvOne, Kamis 15 Oktober 2009 » | Iwan Fals dan Anak » | Selamat Melaksanakan Pilpres 2009 » | NEGERI YANG HILANG (SINGEL TERBARU 2009) » | Liputan Khusus Iwan Fals & Slank di Rolling Stone ... »

Iwan Fals: Bukan cuma pejabat yang bisa korup, seniman pun bisa khilaf

[BERITA] Semilir angin dingin tak membuat ratusan orang yang berada di Gedung Indonesia Menggugat, Senin (9/11) ingin beranjak dari silanya. Mereka seolah tersihir oleh penampilan beberapa seniman dan musisi yang mengisi acara Bandung Mengenang Rendra (BMR) malam itu.

Acara BMR dengan tajuk “Konser Musik: Kantata Untuk Rendra” dari pukul 20.00 hingga 23.30 WIB. Dihadiri oleh dua sosok legendaris dari grup kenamaan itu, yaitu Sawung Jabo dan Iwan fals. Meskipun grup yang terkenal dengan lirik khas bertemakan kritik sosial itu tidak dalam formasi lengkapnya lagi. Namun, hal itu tidak membuat suasana menjadi sepi, ditambah lagi dengan kemunculan dadakan dari Iwan fals yang semakin membuat suasana semakin riuh.

Salah seorang panitia dan penggagas ide BMR, Herry Dim dalam pembukaannya menuturkan jika acara itu bukanlah persembahan untuk Rendra. “Rendra kini telah pergi dari kita. Tidak ada lagi sesuatu yang ia perlukan kecuali doa dari kita selaku seniman dan keluarganya, yang perlu dilanjutkan oleh kita dari Rendra adalah apa yang dia perjuangkan semasa hidupnya,” tuturnya.

"Rendra telah menyuarakan tentang kebebasan, keadilan, pendidikan yang terjangkau dan kemiskinan yang ada di bangsanya, dan itu tidak akan pernah mati dan berhenti. Kita semua baik seniman ataupun non seniman harus terus memperjuangkan itu,” beber Herry.

Sebelumnya Iwan fals memulai aksinya sendiri dengan memusikalisasi puisi Rendra yang berjudul Gerilya dan Tahanan. “Puisi Gerilya ini pernah dimuat di majalah Siasat tahun 1955, sedangkan Tahanan pernah dimuat di majalah Kisah tahun 1956,” imbuhnya.

“Saya pikir Rendra hanya untuk saya saja, tapi ternyata banyak juga yang mengenang Rendra malam ini. Saya tidak bisa menolak saat diminta hadir mengisi acara malam ini. Bagi saya ini adalah persembahan saya untuk Rendra dan saya bangga bisa hadir di sini, ini adalah mata air di antara ramainya outlet-outlet bisnis yang ada di Bandung,” ujar Iwan yang datang saat hujan lebat menguyur Bandung.

Dalam kesempatan itu Iwan Fals juga meminta izin dan permohonan maaf karena dirinya akan berangkat haji pada tanggal 19 November mendatang. "Bukan pejabat saja yang bisa korup, seniman juga bisa jadi melakukan khilafnya, saya minta maaf yang sebesarnya jika ada keselahan. Kepergian ke tanah suci ini untuk yang kedua kalinya, yang pertam untuk umrah. Awalnya dipaksa oleh keluarga sehingga seperti leher ditarik-tarik. Namun, Klo tidak seperti itu nampaknya kan sulit untuk berangkat," ujar pelantun lagu “Bongkar” itu.

Iwan berseloroh jika saat pertama kali ia ke Mekkah pada tahun 1975 saat masih duduk di bangku SMP, orang banyak yang heran, biasanya kalau orang pulang ke tanah air bawa air zam-zam saya malahan bawa gitar. “Eh, entah percaya atau tidak saya sekarang benar-benar menjadi musisi. Dan saat di sana saya juga berdoa agar menjadi musisi yang menyuarakan kebenaran dan keadilan. Alhamdulillah kini saya masih menyuarakan hal itu,” paparnya.

“Besok, saya di sana akan berdoa untuk masa depan Indonesia,” imbuh Iwan. Setelah Iwan fals bermain, hadir giliran Sawung Jabo. Sawung menyanyikan beberapa lagu yang dipersembahkan khusus untuk Rendra.

Setelah itu, keduanya tampil bersama, lagu yang ditampilkan oleh Kantata yang berisikan beberapa personil tambahan malam itu ialah Paman Doblang, Balada Pengangguran, Hio dan Kesaksian.

“ Aku tak mau kehilangan akal sehat dipikiranku, aku tak mau menyaksikan ada orang yang dihinakan, aku hanya tahu, bahwa orang hidup, agar jangan mengingkari hati nurani,“ salah satu lirik dari syair Hio.

Hari yang semakin malam tidak membuat para penonton untuk keluar dari gedung lebih awal, ditambah lagi suasana konser yang begitu ‘cair’ sehingga tidak ada pembatas antara penonton dan musisi. Suasana riuh ketika suara penonton dan para musisi bercampur ditambah ruang konser yang tidak terlalu luas membuat suasana malam itu menjadi pengap dan hangat. Namun, tidak mengurangi kenikmatan mereka bernyanyi bersama.

Konser musik malam itu, mencapai klimaksnya ketika Iwan dan Sawung menjadi satu diatas panggung dan menyanyikan lagu 'Badut' yang kemudian diikuti oleh sautan dari penonton. Pada konser malam itu hadir pula seniman asal Bandung lainnya seperti Harry Pochank, Mukti Mukti dan Tiwi Sakuhaci yang mencoba memusikalisasi puisi-puisi Rendra.

Sejumlah seniman Bandung, sebelumnya telah menggagas beragam kegiatan untuk mengisi acara BMR ini, dari tanggal 28 Oktober hingga 16 November. Acaranya terdiri dari sepuluh agenda kegiatan seperti diskusi, apresiasi, eksibisi dan konser music yang berkaitan dengan karya-karya Rendra.

Adapula Pameran Senirupa Megatruh Kambuh, Pameran Senirupa "Nyanyian Angsa" yang terinspirasi dari karya-karya puisi Rendra, Pertunjukan Teater “Kisah Perjuangan Suku Naga” dan pemutaran film. Tempat yang akan dijadikan berlangsungnya kegiatan diantaranya yaitu Gedung Indonesia Menggugat, Bale Rumawat Universitas Padjajaran, Universita Parahiyangan, STSI dan Yayasan Pusat Kebudayaan. (cource : Republika/C03) ***

Labels:

[Baca Selengkapnya]

artikel yang menarik. oia, jangan lupa mampir ke sini ya...

Post a Comment

Arsip Bulanan

Sejak Februari 2007

Web Site Hit Counters

falsmania sedang online